Rabu, 18 Desember 2013

17.12.13


Di semesta yang fana kita hanya di berikan hanya sepasang yang bermakna oleh Tuhan. Sepasang makna. Sedih senang. Kaya miskin. Muda tua. Kecil besar. Tidak di berikan sesuatu yang setengah-setengah atau ganyong (bahasa local people). Kalau ganyong kita menganggap belum bermakna yang mutlak. Bukankah telah dipastikan dalam firman Tuhan kalau di dunia ini memang telah di ciptakan hidup bepasang-pasangan? 
Siapa yang akan mendustakan?

Kalah menang. Laki-laki perempuan. Gembira duka.  Alangkah jika kita masih mencari siapa jodoh kita, padahal juga telah dipersiapkan yang paling pas untuk setiap insannya yang sabar menunggu.
Di tanggal 17 Desember 2013. Penghujung tahun, di akhir penugasanku di Gunung Agung. Dalam sekali waktu. Di pagi siang, sore malam, merasakan yang namanya sepasang. Sepasang perasaan yang memang pasti dirasa.

Pagi ke siang murid-muridku menggondol empat piala sekaligus di bidang olahraga. Rasa senang yang tak terhingga bersama teman-teman guru seperjuangan terbayar lunas. Senyum dan perasaan bahagia terkuras di hari itu. Sekolah yang jauh dari pandangan masyarakat, sekolah yang selalu mendapat predikat dibawah, lantas kini di antarkan ke puncak kejayaan oleh anak-anak bertalenta, yang mempunyai bakat. Dari sekolah yang guru-gurunya rata-rata minder karena usia sudah mulai menyentuh batas pensiun.  Alhamdulillah..

Piala-piala tampak bertengger rapi di ruang kepala sekolah, piala yang hanya dua saja hasil dari kejuaraan terbuka peringatan hari jadi Sekolah Menengah Pertama di Unyil beberapa bulan yang lalu bertambah dengan empat piala. Enam piala. Bahagia rasanya. Anak-anak memboyong-boyong piala. Mereka belum pernah tahu dari dekat seperti apa piala itu. Guru-guru tersenyum manis. Semanis melukis pelangi.

Anak-anak pelosok memang penuh bintang. Bintang harapan negara dan bangsa. Si Faris mengantarkan juara takraw dengan engkolan tendangan yang lihai. Bola-bola dari kulit rotan yang dianyam rapi dimainkannya. Kaki yang luwes membawa tim dan kawan-kawannya mencetak poin yang tinggi di banding lawan-lawannya.

Dewi. Si jagoan Margajaya yang nanti pasti mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Telitinya memainkan bidak-bidak catur menggentarkan lawannya yang lebih tinggi badannya dan posturnya. Dia masih belum percaya ketika saya mengabarkan lirih di telinganya bahwa dialah sang juara. Matanya masih seakan tak percaya. Yang dia tahu, setiap main menang. Tak sadar poin yang dikumpulkan paling tinggi. Pelukan semangat dan selamat dariku menagih janji hati untuk membelikan papan catur yang dia tak punya selama ini.

Ternyata kabar menangnya catur membakar semangat tim voli. 
"Catur menang, kalian bawa nomer juga ya!" seruku.
Mental juara yang ditanam dari awal latihan ternyata ampuh, anak-anak tenang sekali bermain. Operan dari Dhea, dismash Vena  jatuh mengoyak pertahanan lawan. Teriakan semangat Bu Yuliana membawa lapangan menjadi semakin sengit persaingan. Eka yang biasanya mengumpulkan poin tambahan untuk lawannya memilih membalas dengan meniti pasti pundi-pundi poin yang bertambah untuk timnya. Ovita si tukang servis yang menukik membuyarkan pertahanan lawan.

Siang itu terasa lengkap ketika sms datang dari Bu Asti bahwa bulu tangkis mendapat juara 3. Inilah kebahagiaan yang tidak bisa di nilai dengan uang. Kebahagiaan mendampingi anak-anak yang telah memiliki perubahan sikap juga menjadi kepuasan pribadi. Terutama hati.

Namun kembali lagi, sepasang itu tak pernah lepas di hari itu. Kepuasan, kebahagiaan, yang terasa manis sekali disore hari berbalik. Tangisan. Kesedihan. Duka. Mendung siang itu menjadi mendung di bawah langit Gunung Agung. Masih tidak percaya hingga saat ini. Pemimpin di tempat penugasanku yang belum satu tahun menjalankan tugasnya sebagai Pak Camat tutup usia sedemikian cepat. Aku dan teman-temanku yang bertugas di kecamatan Gunung Agung sangat akrab dengan beliau. Kabar simpang siur kami buktikan langsung dengan menuju rumah sakit Sharon yang terdekat di tempat tinggal kami.

Meskipun beliau bukan suku Jawa, di daerah yang diamanahkan Bupati kepada beliau mayoritas warga transmigrasi dari Suku Jawa. Blangkon dan baju khas jawa menjadi saksi bahwa beliau tak mau disebut sebagai orang asing di daerah tempat tugasnya, aku pun merasa seperti itu juga, tak mau disebut sebagai seorang yang asing di tempat di mana aku di tugaskan. Beliau punya cara yang unik, cepat dalam berbaur bersama masyarakat, dari lini bawah, hingga lini atas.

Tangisan. Kesedihan. Berat di tinggal orang yang baik hati dan cara memimpin yang berbeda dengan orang kebanyakan. Keasrian kampung apalagi di ibu kota kecamatan, selalu digencarkan oleh beliau. Mushola berdiri kokoh di belakang kantor merupakan peninggalan bisu karena beliau memegang amanah dengan sebaik mungkin. Aku banyak belajar dari bapak Camat yang mimpin rakyatnya dengan nyentrik ini. Setiap di undang warganya, beliau pun memenuhi.

Benar-benar Bapak Azuar, SH. Menjadi camat yang amanah dan mati tenang. Beliau dalam obrolan dan candaannya selalu menyelipkan kata-kata itu.  Masih teringat ketika perkenalan diawal beliau menjabat, dilam bus yang  panas di Panaragan sembilan bulan yang lalu.         


Berpelukan sedih dengan Monic ketika benar-benar membuktikan berita itu di depan jenazahnya. Tumpah air mata. Dalam sehari aku belajar tentang  sepasang bermakna. Yang tak pernah didustai oleh siapapun. Dari sekitar, alam, semesta, dan Tuhan. Belajar dari pelosok Lampung yang nama Gunung Agung belum tertulis di peta. 

17.12.13


Di semesta yang fana kita hanya di berikan hanya sepasang yang bermakna oleh Tuhan. Sepasang makna. Sedih senang. Kaya miskin. Muda tua. Kecil besar. Tidak di berikan sesuatu yang setengah-setengah atau ganyong (bahasa local people). Kalau ganyong kita menganggap belum bermakna yang mutlak. Bukankah telah dipastikan dalam firman Tuhan kalau di dunia ini memang telah di ciptakan hidup bepasang-pasangan? 
Siapa yang akan mendustakan?

Kalah menang. Laki-laki perempuan. Gembira duka.  Alangkah jika kita masih mencari siapa jodoh kita, padahal juga telah dipersiapkan yang paling pas untuk setiap insannya yang sabar menunggu.
Di tanggal 17 Desember 2013. Penghujung tahun, di akhir penugasanku di Gunung Agung. Dalam sekali waktu. Di pagi siang, sore malam, merasakan yang namanya sepasang. Sepasang perasaan yang memang pasti dirasa.

Pagi ke siang murid-muridku menggondol empat piala sekaligus di bidang olahraga. Rasa senang yang tak terhingga bersama teman-teman guru seperjuangan terbayar lunas. Senyum dan perasaan bahagia terkuras di hari itu. Sekolah yang jauh dari pandangan masyarakat, sekolah yang selalu mendapat predikat dibawah, lantas kini di antarkan ke puncak kejayaan oleh anak-anak bertalenta, yang mempunyai bakat. Dari sekolah yang guru-gurunya rata-rata minder karena usia sudah mulai menyentuh batas pensiun.  Alhamdulillah..

Piala-piala tampak bertengger rapi di ruang kepala sekolah, piala yang hanya dua saja hasil dari kejuaraan terbuka peringatan hari jadi Sekolah Menengah Pertama di Unyil beberapa bulan yang lalu bertambah dengan empat piala. Enam piala. Bahagia rasanya. Anak-anak memboyong-boyong piala. Mereka belum pernah tahu dari dekat seperti apa piala itu. Guru-guru tersenyum manis. Semanis melukis pelangi.

Anak-anak pelosok memang penuh bintang. Bintang harapan negara dan bangsa. Si Faris mengantarkan juara takraw dengan engkolan tendangan yang lihai. Bola-bola dari kulit rotan yang dianyam rapi dimainkannya. Kaki yang luwes membawa tim dan kawan-kawannya mencetak poin yang tinggi di banding lawan-lawannya.

Dewi. Si jagoan Margajaya yang nanti pasti mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Telitinya memainkan bidak-bidak catur menggentarkan lawannya yang lebih tinggi badannya dan posturnya. Dia masih belum percaya ketika saya mengabarkan lirih di telinganya bahwa dialah sang juara. Matanya masih seakan tak percaya. Yang dia tahu, setiap main menang. Tak sadar poin yang dikumpulkan paling tinggi. Pelukan semangat dan selamat dariku menagih janji hati untuk membelikan papan catur yang dia tak punya selama ini.

Ternyata kabar menangnya catur membakar semangat tim voli. 
"Catur menang, kalian bawa nomer juga ya!" seruku.
Mental juara yang ditanam dari awal latihan ternyata ampuh, anak-anak tenang sekali bermain. Operan dari Dhea, dismash Vena  jatuh mengoyak pertahanan lawan. Teriakan semangat Bu Yuliana membawa lapangan menjadi semakin sengit persaingan. Eka yang biasanya mengumpulkan poin tambahan untuk lawannya memilih membalas dengan meniti pasti pundi-pundi poin yang bertambah untuk timnya. Ovita si tukang servis yang menukik membuyarkan pertahanan lawan.

Siang itu terasa lengkap ketika sms datang dari Bu Asti bahwa bulu tangkis mendapat juara 3. Inilah kebahagiaan yang tidak bisa di nilai dengan uang. Kebahagiaan mendampingi anak-anak yang telah memiliki perubahan sikap juga menjadi kepuasan pribadi. Terutama hati.

Namun kembali lagi, sepasang itu tak pernah lepas di hari itu. Kepuasan, kebahagiaan, yang terasa manis sekali disore hari berbalik. Tangisan. Kesedihan. Duka. Mendung siang itu menjadi mendung di bawah langit Gunung Agung. Masih tidak percaya hingga saat ini. Pemimpin di tempat penugasanku yang belum satu tahun menjalankan tugasnya sebagai Pak Camat tutup usia sedemikian cepat. Aku dan teman-temanku yang bertugas di kecamatan Gunung Agung sangat akrab dengan beliau. Kabar simpang siur kami buktikan langsung dengan menuju rumah sakit Sharon yang terdekat di tempat tinggal kami.

Meskipun beliau bukan suku Jawa, di daerah yang diamanahkan Bupati kepada beliau mayoritas warga transmigrasi dari Suku Jawa. Blangkon dan baju khas jawa menjadi saksi bahwa beliau tak mau disebut sebagai orang asing di daerah tempat tugasnya, aku pun merasa seperti itu juga, tak mau disebut sebagai seorang yang asing di tempat di mana aku di tugaskan. Beliau punya cara yang unik, cepat dalam berbaur bersama masyarakat, dari lini bawah, hingga lini atas.

Tangisan. Kesedihan. Berat di tinggal orang yang baik hati dan cara memimpin yang berbeda dengan orang kebanyakan. Keasrian kampung apalagi di ibu kota kecamatan, selalu digencarkan oleh beliau. Mushola berdiri kokoh di belakang kantor merupakan peninggalan bisu karena beliau memegang amanah dengan sebaik mungkin. Aku banyak belajar dari bapak Camat yang mimpin rakyatnya dengan nyentrik ini. Setiap di undang warganya, beliau pun memenuhi.

Benar-benar Bapak Azuar, SH. Menjadi camat yang amanah dan mati tenang. Beliau dalam obrolan dan candaannya selalu menyelipkan kata-kata itu.  Masih teringat ketika perkenalan diawal beliau menjabat, dilam bus yang  panas di Panaragan sembilan bulan yang lalu.         


Berpelukan sedih dengan Monic ketika benar-benar membuktikan berita itu di depan jenazahnya. Tumpah air mata. Dalam sehari aku belajar tentang  sepasang bermakna. Yang tak pernah didustai oleh siapapun. Dari sekitar, alam, semesta, dan Tuhan. Belajar dari pelosok Lampung yang nama Gunung Agung belum tertulis di peta. 

Rabu, 27 November 2013

LEBARAN DI MANAPUN TETAP ASYIK!


Suasana nan gundah di hati ini cukup terasa sebelum lebaran datang, banyak teman di sana bertanya,

“tidak mudik bu?”

“apa kabar hatimu, mbak?”

“sedih banget orang tua tahu ada anaknya yang nggak kumpul”

“denger Takbir apa nggak nangis, Bu?”

Sepatah, dua patah, aku jelaskan dengan logika dan pura-pura kuat di hadapan para penanya.
Memang ada gundah gulana, namun harus kuat, harus yakin Lebaran di sini aku harus mengalaminya.
Kadang update status dijejaring sosial bisa menyembuhkan butir-butir embun lara, pasti teman-teman dan para sahabat jauh di lintas pulau sana menguatkan hati ini lewat tuts-tuts bar smartphone milik mereka.
Takbir pun berkumandang ketika Menteri Agama, Surya DarmaAli, mengisbatkan 1 Syawal 1434H jatuh pada malam Kamis, Di tanggal 8 Agustus 2013. Ramai, semuanya turun ke jalan, poros desa pun penuh sesak, padahal jalanan batu masih menantang lancip-lancipnya dan tanah sedang licin-licinnya karna guyuran air yang membasahi bumi.

Aku berjalan ke rumah sahabatku, Anni. Dia mengajak berkeliling desa, ketika aku menceritakan sedikit kegalauan karna Ibuku menelepon mengabarkan bahwa beliau ngungsi sementara di rmah Nenek di Probolinggo, sedangkan ayahku tak bisa dihubungi, beliau  tak berkabar apa-apa dari kotak hitam ajaib yang layarnya sering ku sentuh ini.

Bermotor ke rumah Nita dengan menjemput si Sophie. Teman baruku yang kuliah di Tanjung Karangmengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris. Yang Ibunya percaya sama aku, tapi amanah itu tak berlangsung lama, karena si Sophie pulang terlambat 30 menitan dari deadline waktu karena sesuatu yang nanti ini akan ku ceritakan.

Anni, aku, juga si Sophie, dan empunya rumah si Nita, ngobrol simpang siur tentang harapan-harapan di Lebaran ini, sampai akhirnya temanku yang aku kenal lewat karang taruna desa datang dan mengajak pawai keliling ke desa lain. Dia pun membawa teman lagi, dan akhirnya meski hati berperang menentang bahwa tidak  layak untuk dilakukan, tapi akhirnya akupun mengiyakan ajakan teman-teman setelah dipaksa-paksa. =D

Sigit, Guru SMA juga, Agil, guru SMK yang baru di buka dan sedang mbabat alas di desa Margajaya, Wira, anak kampus Unila yang aku kenal baru ini, juga si Dani, eh entah aku lupa namanya, karenabaru ketemu sekali itu, naek motor sama-sama keliling ke unyil lalu ke SP2, entah setan mana, yang tiba-tiba dari Unyil balik ke sp4c malah bablas ke SP2C.

Tapi namanya di bonceng sama AKAMSI (anak kampung sini) -teman-teman PM TBB menyebutnya- ya aman damai sentosa. Mereka berempat yang membonceng kami sudah lihai dan insting mereka kuat, buktinya Pak Sigit yang membonceng aku kakinya tak kena lumpur sama sekali. Meski bibir mereka penuh cercaan ke si teman baruku yang aku lupa namanya karna dia yang ngajak ke SP2C, tapi mereka tetap tangguh meski jalan penuh air menggenang, gelap gulita, menembus ribuan pohon karet yang berbaris rapi, juga merayap setapak motor yang dilewati penderes karet tiap dini hari.  Banyangkan jika aku yang bawa, Si Rissa atau Monic udah tahu rasanya jatuh di lumpur gara-gara aku. =D

Meski Pak Sigit bertempur dengan jalanan merah, juga motor tak mendukung, aku dan pak Sigit menunggangi motor matic Mio punya Anni. Sedangkan pak Agil bawa KLX kawasaki gressnya, Pak sigit dan aku bertukar cerita tentang perjalanan jadi guru. Kami berdua memang guru, tapi ikut-ikutan pawai layaknya remaja belasan memang kurang baek, malu lah kalau ketemu murid-muridnya. Dari sini aku sadar tugas guru memam=ng berat, ya di sekolah, ya di rumah, ya di jalan, harus pandai-pandai jaga sikap. Ingat singkatan ala jawa, guru, digugu lan di tiru.

Akhirnya kami semua sampai di margajaya SP4Cdengan selamat, segera aku antar si Sophie kembali ke rumahnya, aku pun kembali ke rumah juga, aku gelar sajadahku, bemunajad padaNya, bertakbir dalam bisunya malam. Bersyukur karena di perantauan ada teman yang selalu setia menemani, bersyukur karena pagi esok solat ied,bersyukur karena punya keluarga baru yang baik hati,  tetapi hati ini sebenarnya sungguh sedih meratapi ramadhan yang telah pergi, sesungguhnya aku kurang sekali memanfaatkan ramadhan tahun ini. Banyak kegiatan dan kesibukan, juga tiba-tiba harus tidak puasa karena kodrat wanita yang aku terima.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar....

Bisikku dalam hati berkali-kali hingga aku tertidur pulas dengan senyuman.





3 SAJA DI MALAM AJAIB




Malam ini ada yang berbeda di desa ku, pertunjukan pasar malam.
Sederhana, hanya ada sepasang permainan anak anak, dan meja panjang untuk menguji keberuntungan para manusia berhati penuh penasaran. Di lengkapi para pedagang yang jualan makanan ringan dan mainan anak-anak.

Sebenarnya saya kurang tertarik dengan adanya pasar malam, siang-siang melewati hanya itu-itu saja yang di pasang. Ya. Memang sederhana.
Anak-anak muridku sudah mengabarkan adanya acara yang sederhana ini mulai kemarin-kemarin.
Tetangga kanan-kiri pun sudah heboh mencengkramakan hadirnya makhluk-makhuk besi tanpa nyawa di lapangan utara SMP.

Zzzzzz... Apa siih mereka. Pikirku. Gitu aja kok di bikin ramai.
Pasang tampang muka menyenangkan ketika muridku mengajak lihat di Pasar Malam. Nanti malam di buka lo Buuu.... Bu Farida lihat ya... ku balas senyuman.

Masuk ke malam hari.
Hapeku bergetar. SMS masuk dari Bu Asti, guru baru nan manis hatinya. Dia pun mengubah paradigma Pasar Malam desa di hatiku. Ajakan bu Asti menggelitik hati menjadi penasaran. Ku iyakan ajakannya dan segera ku ambil kamera digital pink yang tergeletak di atas meja.

Paradigma pasar malam desa di pikiranku berubah menjadi moment yang jarang-jarang ada di desa.
Aku tertawa, menertawakan diriku. Malu sebenarnya. Mengakui kalau Pasar Malam itu asyik sekali. Banyak lampu, sapaan riang anak-anak. Teman-teman karang taruna yang sudah lumayan lama tak berkabar, -dikira tugasku usai-.  Juga bercengkrama dengan orang tua wali murid yang sengaja datang melihat ramainya malam ini.
Ambil gambar dari dekat, dari jauh, dari dekat lagi, menjauh lagi. Padahal objeknya ya itu-itu saja. Tapi inilah moment. Jarang-jarang. =D

Ada bianglala berputar, ternyata naik ini bikin spot jantung. Takut, mungkin karena keamanannya saya tidak tahu, aman apa tidak. Pengamatanku ini mainan bianglala sepertinya barang lama, rantainya bikin begidik. Kuncian pintu bianglala yang miripsarang burung ini juga bikin ngeri, bagaimana kalau.. atau bagaimana jika... hadoo..  Aku sudah berkali-kali naik bianglala yang lebih besar dari ini. 4 kali lipat malah. Tapi biasa, nggak pakai takut. Yang ini kecil tapi bikin deg-deg. Deg-degnya dialihkan dengan teriak Wooooo setiap putaran bareng sama anak-anak. Hilang deeh degnya..

Mainan ke dua: kereta-keretaan. Bentuknya seperti naga, taring besar, lidah menjulur-julur, dan ternyata mesinnya rusak. Harus didorong tenaga manusia. Lucu. Aku tertawa di riuhnya gegap gemita pasar malam. Ada-ada aja. Anak-anak matanya yang sudah menyala ingin naik jadi meredup, kecewa pastinya. Jelas si manusia tenaganya tidak kuat, berat badan 15 anak di tambah berat badan makhuk besi naga tak bernyawa sudah berapa, belum lagi itungan jalan rel makhluk yang sepertinya kurang pelumas, bunyinya krek-krek-krek.

Mesin akhirnya bunyi. Wah, muridku yang mau naik mengantri buat pengecekan karcis. Si penjaga naga memacu naga tanpa penumpang. Sepertinya yang pertama kurang panas mesinnya. Malu-malu muridku tahu aku memperhatikannya menumpang badan si naga. Senyuum... aku ambil gambarnya lewat kameraku.
Meja keberuntungan. Aku tak tertarik sama sekali. Isinya pertaruhan uang. Permainan yang banyak mengandalkan bejo-bejoan. Biarkan orang sewasa yang main, asal murid saya tidak, sebenarnya datang ke sini juga memastikan kalau anak-anak tidak mengunjungi meja ini. Syukurlah kalau  anak-anak tertarik hanya dengan mainan saja.

Akupun tak membawa apa-apa ketika pulang. Inginya beli martabak manis, tapi yang jualan tutup. Makanan di sekitar pasar malam juga habis, sudah jam sembilan. Mataku ngantuk. Tapi ketemu dengan Bu Darti guru di sekolah timur sana menyenangkan hati. Beliau menceritakan tentang pengalamannya di Malang krtika ikut program yang kami kerjakan di Dindik TBB. Haa...jadi bangga, Malang di sebut dan di elunya.

Ajakan pulang karena malam aku iyakan. Pasar malam yang jarang-jarang ada pun jadi pembelajaranku malam ini. Toh yang sebenarnya biasa saja ketika benar-benar kita selami jadi luar biasa.  Paradigma kita jadi berubah. Biang lala, si naga dan meja keberuntungan ternyata jadi tempat yang berbeda ketika kita melihat dengan sisi yang berbeda. 3 saja di malam yang ajaib. Sederhana.
Yang jarang-jarang ada. Pasar Malam.

Margajaya.
Jumat, 4 Oktober 2013.




Sabtu, 01 Juni 2013

Kabupaten Tulang Bawang Barat





Di sana adalah tempat saya berjuang, menghadapi kesendirian, terpisah dengan orang-orang yang menyayangi dan yang saya sayangi.  Awalnya saya berfikir inilah langkah untuk menuju suatu kesempurnaan hidup. Menjadi seorang pengajar muda yang notabene pekerjaan yang sangat mengasyikkan dan di idam idamkan oleh ribuan pemuda pemudi lulusan perguruan tinggi negeri se Indonesia. Mereka (juga saya)  berbondong bondong ingin melunasi janji kemerdekaan.  Berebut menyalakan lilin dalam kegelapan. Ingin tidak selalu mengecam negara. Berkoontribusi dalam pengabdian dan ketulusan, atau ingin mencari mutiara-mutiara bangsa yang berpotensi. Inilah waktu untuk mengabdikan diri. Inilah waktu untuk menantang asa dan perjuangkan idialisme.Mengkontruksi pola pikir yang lebih maju untuk melek pendidikan. Membuka peluang mutiara mutiara kecil itu untuk berprestasi.

Apa daya, ketika disebutkan penempatan Tulang Bawang Barat, daerah bagian Barat Indonesia dan saya sudah sampai di bumi Transmigran Lokal dari bagian Lampung manapun, betapa herannya, daerah ini sangat kaya potensinya. Perkebunan karet hasilnya melimpah, jika getah karet itu di jual, harganya berkisar antara IDR 6000 sampai bahkan jika petani karet beruntung pasarannya naik hingga IDR 15.000.

Dijalanan motor merk Ninja sering keluyuran, KLX, apalagi.. Pajero, waahh...
Desaku banyak orang mampu dan ekonominya bagus, namun sayang, terbalik dengan potensi pendidikannya. Sekolah ala kadarnya, sarapan jarang dilakukan, perhatian orangtua di sini minim. Anak-anak pun terkungkung pengetahuan dan wawasannya.

Sekali lagi, saya masih ngomong tentang transmigran lokal jawa ini. Di bilang jawa ya bukan, di bilang lampung ya bukan, jawanya udah beda, karakternya udah beda. Dua kali lipat saya berfikir dan meluangkan waktu untuk merenung tentang ketidakmeratanya semua aspek di sini. Di Indonesia. Hai! melek! lihat daerah Indonesia di ujung selatan Sumatra ini!

Pelosok. itulah yang saya ingin beritahukan, ternyata pelosok bukan sekedar jauhnya jarak dari kota besar. bukan sekedar minimnya akses informasi dan internet. Di sini pelosoknya berbeda, Istimewa. Jika menginjakkan kaki di Bumi Ragem Sai Wawai apalagi di daerah seberang Way (sungai) Tulang Bawang, dan menetap agak lama (seperti saya) kepelosokan di sini ya keterpelosokan dari segi emosional dan sosiologi masyarakatnya. Entah jaman dahulu para masyarakat yang di transmigrankan (dipindahkan dengan 'keterpaksaan') dari desa-desa dan hidup di desa yang lebih desa (lagi) dan sekarang banyak OKB di desa saya. Tetapi sayang.. OKB nya bukan untuk mengedukasi keturunannya. Tapi sebagian kecil ada yang teredukasi para orangtua untuk mau mengedukasi -duit-duitnya- ke kampus-kampus. yah,, masih ada semangat untuk perubahan bagi para lulusan kampus di desa ini nantinya.

Perubahan bukan dari saya yang sekarang sedang menyandang : -pengajar muda-. Perubahan dari masyarakat sendiri dan pemangku pendidikan di sini. Saya sudah cukup senang berkenalan dengan warga desa di sini, dan orang orang yang sebagian kecil sangat peduli pendidikan. Kurang tujuh bulan lagi waktu saya. Semoga kontribusi saya di tanah yang nanti menjadi sejarah hidup yang tak bisa digantikan oleh apapun membawa dampak positif untuk di desaku dan saya pribadi.

Tanah ini adalah tanah emas, tempat harta karun bagi mereka yang mau bekerja keras. Semoga kelak menjadi emas untuk pendidikan Bangsa Indonesia.

Tulang Bawang Barat
1 Juni 2013


Kamis, 14 Maret 2013

kebahagiaan



Ternyata kebahagiaan itu sederhana
Ternyata kebahagiaan itu ada di sekitar kita
Bukan, bukan farida.
Terlalu berat untuk kupikul.
Terlalu dalam untuk ke selami.
Terlalu tinggi untuk ku daki.
Karna aku punya risau, gelisah dan kesedihan yang tersamarkan...

THE KONCO'S


Tiga minggu berlalu...
Terasa sangat singkat, mulai bertemu satu sama lain di kantor Galuh. Di jadikan satu kelompok fasil dengan Mbak Eki, aku bertemu dengan orang-orang luar biasa.
Kami  menamakan diri The Konco’s diminggu akhir kami berkumpul. Konco artinya teman. Karena teman-teman ber-13 maka di tambahkan huruf s di akhir huruf o, ini menandakan bahwa kami majemuk. Kami menyepakati bahwa lambang kami seekor kepala kelinci dengan pita imut di salah satu telinganya. Ini semua juga memiliki alasan tersendiri.
 Awal mulanya kami bermain kata berantai, membeli sesuatu di pasar dengan urutan ABCD dst dan jika salah urutannya sesuai huruf maka orang yang salah mengenalkan diri terlebih dahulu.
Awal pertama perkenalan Mbak Yanti, seseorang yang kalem, baik dan keibuan. Mengaku bahwa dirinya seseorang yang menjadi tempat sampah menampung permasalahan teman-temannya. Sangat tidak suka bentuk kemarahan yang menakutkan. Aku pun berpotensi menyakiti hatinya. Maaf kan ya mbak... Tetapi Lulusan S2 Psikologi yang nyaris ga bisa di ajak pergi ke California sama kak Barto. Namun senyum pun mengembang ketika akhirnya membawa Yakult dengan penuh rasa belum terungkap.
Kenal dengan Ratih Eka Pertiwi, teman sekampung halaman, jarak rumahnya dan rumahku sekitar 8 km saja. 15 menit perjalanan naik sepeda motor. Lulusan psikologi UGM yang bahasanya daerah malangan nya telah terkontaminasi oleh bahasa Jawa Tengahan sudah melekat. Mung, rung, ra.. blablaba.. Mendengernya membuat ku berfikir mana Malang mu? Hahaha... Tapi gayanya yang feminin, kalem, tapi pas bicara tentang ketidaktahuaannya sangat kritis dan dalam sekali.

Farcil, umurnya di bawahku, dia dibilang-bilang muka bantal. Sangat cepat sekali dalam tanggap respon, cara ngobrol yang enak dan sangat kreatif dalam pembuatan yel-yel The Konco’s. Farcil bagiku adalah sesuatu.

Nina, seorang periang yang sangat pintar menggambar. Lucu, cantik dan sederhana. Nina yang selalu berusaha belajar buat jadi seorang yang ngejawani. Mencari identitas diri keturunan jawa. Belajar  bahasa jawa dari teman PM kami Panca.

Vira, kesan pertama eksklusif, tak mampu rasanya menembus perisai ketebalannya itu. Perisainya terbuka bila memang ia yang membuka perisainya itu sendiri. Cantik, imut, badannya kecil lucu, seneng kenal sama dia yang bisa selesai S1 dan S2 dalam 4,5 tahun.

Wito. Yah aku tak punya banyak kata dan kalimat untuk mendeskripsikanya, hanya cukup satu kata, kalem. Dia icon the Konco’s yang manis dan murah senyum. “Seneng kalo lihat pas seneng” kata-kataku untuknya ketika permainan kesan pesan dilakukan sama-sama oleh bu Ruth trainer Matematic kami.

Fajar, huaa... gag nyangka, orang yang menurutku diam tanpa kata, bisa membuat kata untukku yang artinya sungguh lebay, masak kebahagiaan itu farida? Yah untuk menghormati  “terimakasih mas Fajar..” tanggung jawab yang besar untukku..

Mahsyur.. Seseorang yang pintar, cepat tanggap dan mengganggap bahwa segalanya diperlihatkan dengan kacamata otaknya yang benar-benar tajam seperti mata elang. Buku yang penuh tempelan hasil kesimpulan dan detail mulai awal hingga akhir menunjukkan tingkat ketelatenan yang termahsyur.

Didin. Mana..? Kata yang paling tepat ku tunjukkan untuknya ketika masih belum keluar potensi kemampuan yang di milikinya. Mana Didin Awaludin yang selalu aktif dulu di facebook..? dan sekarang ada di sampingku menanyakan jalan pikiranku? Kasih tau gag ya...?? =D

Towi. Kecil tinggi diam. Dia tidak terlalu dekat sama aku, mungkin karena dulu di wanadri aku pernah menolak untuk jadi komandan regu, “nggak mau mas! Aku ga suka jadi pemimpin” Maaf ya mas bukan maksud aku untuk begitu...

Rahman. Surahman. Teman DA di Surabaya dulu. Pembawaannya oke, pemikirannya tulus, tidak mau dicuekin, sama seperti aku. Rahman temannku yang ngerti tentang aku. Karna DA yang mengharuskan aku menceritakan sedetail-detainya tentang diriku hanya dalam jangka waktu 7 menit.

Vani. Vani yang suka ngomong, deket bgt pas pelatian wanadri, entah mengapa aku semakin ada jarak dengannya. Maaf ya Van, jika ada banyak kata-kata yang ga enak di hati. Tetep jadi Vasni yang cinta laut Indonesia.

Tenyata...
Mereka lah yang membantuku menemukan sebuah kebahagiaan kecil sederhana di dalam hatiku. The Konco’s jangan lupakan kebersamaan kita.
Terimakasih yang paling besar untuk mbak Eky, yang mampu menjadi seorang fasilitator yang membawa kami merajut kebersamaan dalam perbedaan.