Jumat, 21 Februari 2014

Suara berproses, ataukah proses bersuara?



Tiba-tiba aku mencintai proses. Meskipun konsep dan aplikasi proses sudah mendengung di telingaku sejak lama. Tiba-tiba aku mencintai proses, proses teruju karena meruntut dari awal peristiwa, juga  penggalan-penggalan peristiwa yang tersusun menguntai rapi memproduksi kisah yang indah. Tiba-tiba aku mencintai proses, padahal proses selalu tidak bersahabat dengan kesuksesan dan hasil yang diidamkan.

Bagiku, di dua minggu awal Februari 2014 aku berproses cepat. Tanpa klamufase, tanpa tanda-tanda atapun segalanya yang menuju ke proses. Di giring aku menuju konsep ekonomi mikro, konsep tata keluarga di masa depan, konsep pemberdayaan masyarakat, juga alasan roman mengabdi di sebuah pulau kecil di sudut  Sulawesi.  Cerita-cerita masa awal tahun 90an di berbagai sudut kota pun lembut mengalun masuk ke kalbuku, aku sangat hafal intonasinya, cara menyampaikannya tak pernah membuat jenuh siapapun yang mendengarnya. Suara seseorang yang memaksa alam imajiku memasuki kronologi kehidupannya.
Di Surabaya dia lahir, dari keluarga yang sangat displin dalam beribadah dan menjunjung ilmu. Aku pernah berjumpa dengan keluarga yang membesarkannya.  Bertemu orang tuanya dan adik yang dibanggakannya. Hangat suasana ketika Mem, ibunya, menyuguhkan sarapan pagi untukku dan Mbak Yanti. Kami semua bercengkrama mengalir saja. Layaknya air sungai yang mengalir menghabiskan aliran sungainya sampai hulu.
Kehidupan keluarga ini ternyata tak sehangat obrolan pagi kala sarapan terbentang di depan kami. Pemilik suara membeberkan masa-masanya, dari kelahirannya kemudian hijrah menuju Jakarta. Di Jakarta kehidupan yang dilakoni mulai keras, memasuki SD swasta AlHidayah, SD pinggiran yang murid-muridnya anak pedagang, anak pemulung, anak-anak yang orang tuanya kesusahan jika di masukkan ke SD Negeri  maka SPP di pastikan memberatkan para pedagang asongan dan pemulung.
Aku jadi mengingat masa kecilku, orang tuaku menyekolahkanku di SD Negeri yang lumayan mahal SPP  nya. 5000 rupiah di sekolahku saat itu, padahal, nasi rawon di depan sekolah hanya 500 rupiah sepiring. SD  Al Hidayah mungkin seperti  SD Laskar pelangi, namun mirisya  ada di  Jakarta, kota nomer wahid di negeri ini.  Sekolah itu  terbatas muridnya, terbatas prasarananya, namun menggembleng seseorang pemilik suara renyah untuk berprestasi dan masuk ke SMP Negeri di Jakarta. SD itu kabarnya masih sama. Sama seperti saat di tinggalkannya di tahun 1998.
SMP nya di warnai dengan belajar kehidupan, belajar pula memasuki dunia remaja dengan mencetak NEM tinggi dan masuk ke SMA Favorit di  Jakarta. Ketika ku tanya kesan dari sekolah pinggir masuk ke sekolah negeri yang luar biasa, dengan teman yang banyak dan bertemu beragam karakter yang jauh berbeda dengan masa kecilnya, jawabnya jujur mendasar, rasa rendah diri menghantuinya saat-saat itu. Aku pun bercermin, pernah aku sangat rendah diri di hadapan teman-teman yang pernah bertemu dan bersama-sama hidup setahun di perantauan. Namun mengapa rasa itu terawat sempurna, aku malu mengakui di depannya.
Semakin malu mengakui, dan menyesal mengapa dahulu terawat sempurna sifatku, ketika suara itu menari mengelayut diksi merangkai kisah dimana seleksi masuk perguruan tinggi negeri mengundangnya tanpa tes masuk sekaligus di dua perguruan tinggi ternama.
UGM menjadi pilihannya. Ternyata mimpi yang sudah terkait sejak TK membawanya di kampus orang-orang pintar. Orang-orang pintar, kata Memnya  begitu. Dan itu membawa si empu suara hijrah ke Jogya. Jogya yang tak pernah di jamahnya dan di tinggalinya selama 5 tahun lebih. Awal datang perjuangan keras untuk berusaha bersahabat dengan kota yang terkenal kearifan lokal penduduk dan budaya suku Jawa. Menelan ilmu-ilmu akademis dan menetaskan pengalaman-pengalaman hidup yang luar biasa.
Aku tak pernah tinggal di Jogya. Sebagai pelesir aku memang pernah ke sana. Terakhir ke Borobudur di kelas lima SD bersama rombongan sekolahku. Aku jadi ingin ke Jogya. Menyaksikan dan menelaah di  sana dengan sudut pandang yang berbeda, diusiaku yang sudah dua kali lipat lebih saat terakhir ke sana.
Aku bertemu si pemilik suara di Surabaya. Saat ada tes kerja menjadi pengabdi di ujung-ujung Indonesia. Ku berikan name tag tulis di depannya saat pemilik suara itu baru memasuki kelas. Kami sempat mengobrol tentang latar belakang kami. Suara-suara itu pun mulai terngiang saat kami sama-sama lolos menjadi pengabdi. Dering handponeku muncul namanya. Bercengkrama nan manis dimulai sebelum memasuki dunia pelatihan. Saling mengabari dan bercerita tentang persiapan-persiapan menuju ke sana. Aku pernah tertinggal saat perjalanan menuju Jakarta. Lemas saat aku tak bisa mendengar suaranya melalui handphoneku. Sudah dimatikan handphonenya, artinya pesawat membawanya melintasi langit pulau Jawa. Aku merasakan kalau dia sangat waswas dengan keadaanku setelah satu setengah jam suaranya kembali menghiasi gelombang udara dan sampai di telingaku. Dia menanyakan kabarku. Aku berusaha menenangkan dan akan menyusul ke sana. Aku menangkap pandangan leganya ketika aku dan dia berhadapan di depannya di tempat yang sama di Galuh II. Kemudian dia pergi. Melangkah menjauh dan bergabung dengan teman-temannya.
Saat itu aku menatapnya dari jauh. Dia berjalan dengan teman-teman barunya dengan memakai jaket batik yang sampai saat ini sering dikenakan.
Selama pelatihan aku tak pernah mendengar lagi suara itu, mendengar secara pribadi. Aku teringat kebaikannya dan ketulusannya sebelum masuk camp, aku menganggap dia sebagai ‘mas’. Aku sering manja meminta diusap kepalaku. Tanpa ada perasaan chemistry apapun. Tulus sebagai saudara sedaerah. Saat di awal penempatan aku sering mendengar suaranya berkisah pulau kecilnya Tembang.
Aku membanggakan dia, tanpa cela dan masih tetap sebagai saudara. Kami dekat tanpa rencana ketika pulang dari tanah pengabdian kami. Berjalan bersama mengupas kehidupan Suku Badui, pulang dengan kereta api Argo Lawu bersama mbak Yanti tanpa perjanjian sebelumnya.  Dan di saat dua minggu terakhir di bulan Januari, suara-suara itu sering menghiasi hari-hariku di kota Surabaya yang indah. Mengejutkanku ketika suara itu mengaku memendam rasa saat pertama bertemu dan perjuangannya membuka hatiku.
Suara itu mengenalkan proses dengan detail padaku. Suara itu menyejukkan hatiku takkala Ayahku ditemuinya dirumahku.  Kedatangannya mendamaikan hatiku serta mendatangkan perasaan yang berbeda. Insyaallah, nantinya suara itu menemani perjalanan hidupku. Membimbingku dan membangun keluarga yang benar-benar bahagia.

Aku ingat, pakar pendidikan pak Munif Chatib, menerangkan tentang macam-macam gelombang otak. Saat beliau menerangkan suara, ternyata suara tak akan pernah berubah. Suara tak akan pernah hilang, mengikuti gelombang dan tersambung ke otak.  Dan otakku akan selalu mendengarkan pemilik suara itu bercerita perjuangan-perjuangannya nanti. Suara itu akan selalu membuatku terpukau. Suara itu akan mengantarkanku dalam mengalami fase kehidupan yang baru. Suara renyah itu dimiliki seseorang  yang kehidupannya berproses dengan baik, dari anak SD pinggiran disalah satu sudut pinggiran Jakarta, sekarang mampu menjadi punggung keluarganya, dan sangat dibanggakan Mega, adik kandungnya. Dia calon suamiku, aku mempercayakan hidupku padanya, Fitra Luqman Hidayat.

Minggu, 05 Januari 2014

Kilas Balik Perjalanan Setahun dari Malang ke Pedalaman Lampung



Aku meninggalkannya untuk waktu yang lama tak berbatas, kabupaten Tuba Barat yang  mengenalkan bagaimana aku belajar untuk bersikap dan mendewasakanku ini harus segera di ikhlaskan. Air mata jatuh berurai saat mobil Avanza meniti jalanan hitam berlubang sana-sini.
 
 Setahun yang lalu, saat pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Udara Radin Inten,  tak pernah terlintas akan menginjakkan kaki di tanah Lampung. Mungkin dulu saat sebelum di putuskan di tempatkan di sini aku tak pernah menduga sebelumnya. Tuntunan mozaik-mozaik dari cerita Lampung sangat terasa sekali terngiang-ngiang dari telinga menuju hati. Temanku di asal muasalku, -Kota Malang- selalu menceritakan Lampung, ketika masa pelatihan juga di singgung tentang keadaan tantangan geografis dan sosiologis yang seimbang, sebelumnya juga tersentil nama Tulang Bawang, jauh sebelum aku masuk di bangku kuliah. Ya, memang Tulang Bawang Barat. Tempat yang di persiapkan semesta dan Tuhan untuk aku mengabdi dan berbakti.

Sekali lagi, aku  juga tak menyangka, Lampung akan menjadi saksi perjalanan masa mudaku. Menghabiskan rentangan waktu di sepanjang usia 23. Patut ku syukuri bertemu banyak saudara dan orang tua baru juga keluarga baru. Tentunya dengan murid-murid penuh Bintang Harapan di desaku.

Jauh di kecamatan Gunung Agung, aku memasuki dunia baruku. Saat itu jalanan di sana masih berbatu dan penuh lumpur saat hujan. Berkali-kali aku terjatuh di dalam kubangan lumpur. Saksi motor TVS merah itulah yang selalu aku tunggangi kemana-mana. Baju dan tas lusuh terkena lumpur sudah biasa. Memar memar di bagian bagian tubuhku sering aku alami. Apalagi saat musim panas tiba, daun-daun, genteng rumah warga, apalagi terasnya, dipenuhi butiran debu yang tebal, daun hijau pun di kuas warna coklat, genteng pun berhias debu. Sumur di rumah yang aku diami juga tak kunjung hadir airnya. Kering. Sumur bor satu-satunya harapan.

Ada jalan yang aku paling tak suka. Di daerah kampung sawah. Di kampung sawang ini menghubungkan antara rumahku dan kedua temanku. Kontur jalannya berbatu, kalau siang hari debunya nyaris membuat sesak di dada. Apalagi jika beradu dengan truk pengangkut singkong. Asap kendaraan raksasa membuat pedih mata juga menerbangkan debu di jalanan. Helm putih SNI lusuhku yang menyelamatkan wajahku. Meski oleh-oleh setahun ini, wajahku semakin manis eksotis. Yang membuat aku semakin tak suka, jalanan ini musti dilewati, tak ada pilihan lain. Biasanya aku melewati kebun-kebun karet, menerabas ladang orang lain untuk menghindari sengatan matahari dan truk-truk penganngkut singkong, apalagi sopirnya. Kadang mereka reseh, membunyikan klaksonnya keras-keras saat aku melintas. Telingaku serasa pecah.

Sekarang pembangunan dan perbaikan daerah di Gunung Agung mulai gencar, jalan dari pusat kegiatan ekonomi warga di Unit dua sampai desaku sudah di aspal. Meskipun kabar yang aku dengar komposisi antara bahan aspal dan jalan batu tak sesuai dengan yang direncanakan. Perbaikan jalur provinsi di ratakan kembali. Menuju desa sahabatku sekarang tak perlu melewati kampung sawah. Tak perlu menghabiskan waktu dijalan selama 45 menit, perbaikan jalan memangkas watu perjalanan menjadi 30 menit saja.
Selain itu,  jalan-jalan yang masih tanah sudah di makadam dengan batu-batu yang dijajar rapi. Mungkin sepuluh tahun lagi Gunung Agung di Tuba Barat sudah maju dan aku mungkin juga tak mengenalinya jika aku ingin bercumbu mengenang masaku di sana.

Sekolahku tempat mengabdi menarik hati. Ada pohon asem yang di tanam di sebelah barat kantor guru, di sana tempat berbagi hati. Berbagi hati sesama guru, sesama siswa, dengan Bik Mis pemilik warung sekolah, dan tentunya media berbagi hatiku dengan murid-murid kesayanganku. Belajar, cerita, bermain, menunggu, dan menghabiskan waktu soreku di rindangnya daun daun mungil pohon Asem.

Banyak ku temui kebiasaan masyarakat yang di luar kemampuanku berfikir. Ternyata di balik semua itu ada pembelajaran yang aku dapat di sana. Bertemu tokoh pendidikan, perintis kemajuan daerah, para pemangku kebijakan dan sampai tingkat paling kecil di keluargaku. Di paksa aku untuk menyerap semuanya dan memfilter hikmah perjalanan hidup dan tantangannya.

Desaku Margajaya, Gunung Agung, Tulang Bawang Barat.Daerah transmigrasi lokal keturunan suku Jawa. Jauh dari keramaian kota. Ketenangan akan di dapatkan disana tanpa kemacetan dan keruwetan sibuknya suasana kota.  Setahun lebih dua bulan aku bertugas.  
Perjalananku yang  diantar mobil Avanza putih meniti jalanan aspal berlubang sana-sini, dalam suasana sedih di hiasi airmata, aku merenungi, bagaimana belajar memaknai hidup ikhlas secara utuh di sini. Tuba Barat.

Lampung, 4 Januari 2014