Selasa, 04 Desember 2012

Sang Lelaki



Laki-laki. Tahu kan gambaran laki-laki? Tangguh. Kuat. Berotot. Senyum simpatik dengan gigi putih berbaris rapi. Rambut hitam legam tersisir rapi, mengkilat jika dilihat dari jauh ketika berpantulan dengan cahaya matahari. Berbalut busana yang kaku, dengan model kemeja yang berkerah tegak, dan dihiasi empat saku, masing-masing dua didada dan dua dibagian bawah sejajar dengan pinggang.  Celana bahan kain yang sudah dicuci dengan dicampuri tepung kanji, dijemur dengan panas matahari yang dijaga agar warna kainnya tidak pudar. Disetrika dengan hati-hati hingga benar-benar terlihat garis lurus celananya. Garis celana nyaris tidak hilang meski di cuci sampai berkali-kali. Busana Safari. Laki-laki dengan mata yang menyala penuh semangat hidup berjalan santai tapi dengan ketegasan menuju gerbang sekolah.
Dialah Pak Yanto. Gambaran Pak Yanto 15 tahun atau bahkan 20 tahun yang lalu. Terlihat samar di usianya sekarang yang menginjak kepala 6. Kulitnya mulai berubah, tak lagi lembab seperti masa mudanya. Mulai kering, keriput, dan menipis. Garis-garis senyum di wajahnya mampu menutupi kegagahannya. Rambut yang berubah menjadi putih pada kulit kepala, klimis hanya menghiasi sebagian kepala saja. Kekurangan tersebut memberikan ekspektasi bahwa beliau lemah teramat lemah, tapi begitu membuka telinga lebar-lebar kata-kata diplomatis yang terucap, runtut, padat dan terarah. Satu-satu kalimat pembuka sambutan dari sekolah untuk kedatangan kami berlima di SD Swasta Tantina di lingkungan bawah barak. Kenapa bawah? Karena menuju ke SD harus berjalan menurun melewati anak-anak tangga kemudian melewati jalanan aspal dan masuk keperkampungan.  Menemui tambak kecil buatan, pohon-pohon mangga, kolam dengan puluhan ikan mas bertotol warna-warni ikan mas, hitam, putih, orange, merah. Subhanallah. Indahnya meski perjalanan tidak sampai menghabiskan 5 kali putaran jarum paling panjang  jam dinding di sekolah. Kami duduk mendengarkan dengan seksama, sesekali kami menimpali dan mendengar kembali.
“Kami berikan kebebasan seluas-luasnya kepada kalian semua, jangan tanggung-tanggung, jangan malu-malu. Silahkan!” Pesan Pak Yanto diawal pertemuan kami dihari Jum’at itu.
dalam hati aku menjawab “iya pak. Terimakasih atas penerimaannya.
Ketika hari senin tiba, upacara di mulai, hormatku pada bendera merah putih di halaman sekolah mengobarkan semangatku untuk dunia pendidikan, teringat lagi aku pada sosok Pak Yanto. Ternyata beliau adalah guru olahraga. Saya baru tahu ketika beliau membriving kami bersama-sama untuk merancang kegiatan ‘jeda’ sehabis UTS. Kami berlima berpanas-panas ria, bermain bersama anak-anak. Lepas semua penat di barak, melebur dengan cerianya anak-anak kelas 3, ada yang menangis, duduk melihat saja, dan banyak juga yang bergelandotan minta main lagi. Dan lagi-lagi Bapak Yanto mengamati kami.
Bapak Yanto di hari-hari berikutnya aku lupakan. Aku fokus dengan kegiatan PPMku di kelas. Belajar Mengajar. Belajar memahami anak. Belajar tentang manusia. Belajar tentang kontrol emosi, belajar tentang dunia mereka, belajar tentang asesor, belajar tentang perbedaan, belajar sabar ketika pulang harus menanjak jalanan semen dan aspal yang panas. Belajar lebih berkeringat. Belajar menerima.
Belajar yang kompleks tersebut di balas dengan rekreasi mengantarkan anak-anak berenang! Waah... hati ini senang, rasanya seperti ditembak pujaan hati yang diidam-idamkan.
Pagi hari sudah bersiap sedia untuk menuju  ke sekolah. Berseragam training IM abu-abu, kami berjalan menyusuri jalan yang sama. Melewati jalanan menurun dengan langkah yang lebih cepat. Kami bersemangat. Membayangkan birunya kolam renang dan teriakan-teriakan lucu dari mulut mungil anak-anak.
Setibanya di sana kami mengatur ramainya suara dan riuhnya sikap anak-anak. Kewalahan. Ya, kewalahan mengatasi banyaknya anak yang ramai, lari ke sana-ke mari. Ketika berusaha mengumpulkan mereka artinya berjibaku menjaring ikan pada jala-jala. Tetapi Pak Yanto berbeda. Beliau mengumpulkan mereka hanya dengan tiupan peluit melengkingnya. Larilah mereka menuju bapak kebanggaan mereka. Yah, itulah beda kami dengan bapak Yanto. Beliau asyik dengan anak-anak dan bersama-sama mengajak mereka pemanasan sebelum masuk ke kolam renang.
Pengajaran di dalam kolam pun menyenangkan, yang paling benar-benar sangat membuat mata dan hati ini terpana ketika Pak Yanto memdemokan kemastreoannya dalam bersahabat dengan air. Ketangguhannya tetap ada. Rasa sayangnya sama anak-anak didiknya sebagai guru benar-benar tulus.  Dari masa ke masa kelaki-lakiannya tetap melekat kuat dibalut rasa cinta terhadap anak-anak didiknya bersama ketangguhan hatinya tersendiri.