Ternyata kebahagiaan itu sederhana
Ternyata kebahagiaan itu ada di sekitar
kita
Bukan, bukan farida.
Terlalu berat untuk kupikul.
Terlalu dalam untuk ke selami.
Terlalu tinggi untuk ku daki.
Karna aku punya risau, gelisah dan
kesedihan yang tersamarkan...
THE KONCO'S
Tiga minggu berlalu...
Terasa sangat singkat, mulai bertemu satu sama lain di
kantor Galuh. Di jadikan satu kelompok fasil dengan Mbak Eki, aku bertemu
dengan orang-orang luar biasa.
Kami menamakan diri
The Konco’s diminggu akhir kami berkumpul. Konco artinya teman. Karena
teman-teman ber-13 maka di tambahkan huruf s di akhir huruf o, ini menandakan
bahwa kami majemuk. Kami menyepakati bahwa lambang kami seekor kepala kelinci
dengan pita imut di salah satu telinganya. Ini semua juga memiliki alasan
tersendiri.
Awal mulanya kami
bermain kata berantai, membeli sesuatu di pasar dengan urutan ABCD dst dan jika
salah urutannya sesuai huruf maka orang yang salah mengenalkan diri terlebih
dahulu.
Awal pertama perkenalan Mbak Yanti, seseorang yang kalem,
baik dan keibuan. Mengaku bahwa dirinya seseorang yang menjadi tempat sampah
menampung permasalahan teman-temannya. Sangat tidak suka bentuk kemarahan yang
menakutkan. Aku pun berpotensi menyakiti hatinya. Maaf kan ya mbak... Tetapi Lulusan
S2 Psikologi yang nyaris ga bisa di ajak pergi ke California sama kak Barto. Namun
senyum pun mengembang ketika akhirnya membawa Yakult dengan penuh rasa belum
terungkap.
Kenal dengan Ratih Eka Pertiwi, teman sekampung halaman,
jarak rumahnya dan rumahku sekitar 8 km saja. 15 menit perjalanan naik sepeda
motor. Lulusan psikologi UGM yang bahasanya daerah malangan nya telah
terkontaminasi oleh bahasa Jawa Tengahan sudah melekat. Mung, rung, ra.. blablaba.. Mendengernya membuat ku berfikir mana
Malang mu? Hahaha... Tapi gayanya yang feminin, kalem, tapi pas bicara tentang
ketidaktahuaannya sangat kritis dan dalam sekali.
Farcil, umurnya di bawahku, dia dibilang-bilang muka bantal.
Sangat cepat sekali dalam tanggap respon, cara ngobrol yang enak dan sangat
kreatif dalam pembuatan yel-yel The Konco’s. Farcil bagiku adalah sesuatu.
Nina, seorang periang yang sangat pintar menggambar. Lucu,
cantik dan sederhana. Nina yang selalu berusaha belajar buat jadi seorang yang
ngejawani. Mencari identitas diri keturunan jawa. Belajar bahasa jawa dari teman PM kami Panca.
Vira, kesan pertama eksklusif, tak mampu rasanya menembus
perisai ketebalannya itu. Perisainya terbuka bila memang ia yang membuka
perisainya itu sendiri. Cantik, imut, badannya kecil lucu, seneng kenal sama
dia yang bisa selesai S1 dan S2 dalam 4,5 tahun.
Wito. Yah aku tak punya banyak kata dan kalimat untuk
mendeskripsikanya, hanya cukup satu kata, kalem. Dia icon the Konco’s yang
manis dan murah senyum. “Seneng kalo lihat pas seneng” kata-kataku untuknya
ketika permainan kesan pesan dilakukan sama-sama oleh bu Ruth trainer Matematic kami.
Fajar, huaa... gag
nyangka, orang yang menurutku diam tanpa kata, bisa membuat kata untukku yang
artinya sungguh lebay, masak kebahagiaan itu farida? Yah untuk menghormati “terimakasih mas Fajar..” tanggung jawab yang
besar untukku..
Mahsyur.. Seseorang yang pintar, cepat tanggap dan
mengganggap bahwa segalanya diperlihatkan dengan kacamata otaknya yang
benar-benar tajam seperti mata elang. Buku yang penuh tempelan hasil kesimpulan
dan detail mulai awal hingga akhir menunjukkan tingkat ketelatenan yang
termahsyur.
Didin. Mana..? Kata yang paling tepat ku tunjukkan untuknya
ketika masih belum keluar potensi kemampuan yang di milikinya. Mana Didin
Awaludin yang selalu aktif dulu di facebook..? dan sekarang ada di sampingku
menanyakan jalan pikiranku? Kasih tau gag ya...?? =D
Towi. Kecil tinggi diam. Dia tidak terlalu dekat sama aku,
mungkin karena dulu di wanadri aku pernah menolak untuk jadi komandan regu,
“nggak mau mas! Aku ga suka jadi pemimpin” Maaf ya mas bukan maksud aku untuk
begitu...
Rahman. Surahman. Teman DA di Surabaya dulu. Pembawaannya
oke, pemikirannya tulus, tidak mau dicuekin, sama seperti aku. Rahman temannku
yang ngerti tentang aku. Karna DA yang mengharuskan aku menceritakan
sedetail-detainya tentang diriku hanya dalam jangka waktu 7 menit.
Vani. Vani yang suka ngomong, deket bgt pas pelatian
wanadri, entah mengapa aku semakin ada jarak dengannya. Maaf ya Van, jika ada
banyak kata-kata yang ga enak di hati. Tetep jadi Vasni yang cinta laut
Indonesia.
Tenyata...
Mereka lah yang membantuku menemukan sebuah kebahagiaan
kecil sederhana di dalam hatiku. The Konco’s jangan lupakan kebersamaan kita.
Terimakasih yang paling besar untuk mbak Eky, yang mampu
menjadi seorang fasilitator yang membawa kami merajut kebersamaan dalam
perbedaan.