Di semesta yang fana kita hanya di berikan hanya sepasang
yang bermakna oleh Tuhan. Sepasang makna. Sedih senang. Kaya miskin. Muda tua.
Kecil besar. Tidak di berikan sesuatu yang setengah-setengah atau ganyong (bahasa local people). Kalau ganyong kita menganggap
belum bermakna yang mutlak. Bukankah telah dipastikan dalam firman Tuhan kalau
di dunia ini memang telah di ciptakan hidup bepasang-pasangan?
Siapa yang akan
mendustakan?
Kalah menang. Laki-laki perempuan. Gembira duka. Alangkah
jika kita masih mencari siapa jodoh kita, padahal juga telah dipersiapkan yang
paling pas untuk setiap insannya yang sabar menunggu.
Di tanggal 17 Desember 2013. Penghujung tahun, di akhir
penugasanku di Gunung Agung. Dalam sekali waktu. Di pagi siang, sore malam,
merasakan yang namanya sepasang. Sepasang perasaan yang memang pasti dirasa.
Pagi ke siang murid-muridku menggondol empat piala sekaligus
di bidang olahraga. Rasa senang yang tak terhingga bersama teman-teman guru
seperjuangan terbayar lunas. Senyum dan perasaan bahagia terkuras di hari itu.
Sekolah yang jauh dari pandangan masyarakat, sekolah yang selalu mendapat
predikat dibawah, lantas kini di antarkan ke puncak kejayaan oleh anak-anak
bertalenta, yang mempunyai bakat. Dari sekolah yang guru-gurunya rata-rata
minder karena usia sudah mulai menyentuh batas pensiun. Alhamdulillah..
Piala-piala tampak bertengger rapi di ruang kepala sekolah,
piala yang hanya dua saja hasil dari kejuaraan terbuka peringatan hari jadi
Sekolah Menengah Pertama di Unyil beberapa bulan yang lalu bertambah dengan
empat piala. Enam piala. Bahagia rasanya. Anak-anak memboyong-boyong piala.
Mereka belum pernah tahu dari dekat seperti apa piala itu. Guru-guru tersenyum
manis. Semanis melukis pelangi.
Anak-anak pelosok memang penuh bintang. Bintang harapan
negara dan bangsa. Si Faris mengantarkan juara takraw dengan engkolan tendangan
yang lihai. Bola-bola dari kulit rotan yang dianyam rapi dimainkannya. Kaki
yang luwes membawa tim dan kawan-kawannya mencetak poin yang tinggi di banding
lawan-lawannya.
Dewi. Si jagoan Margajaya yang nanti pasti mewakili
kecamatan ke tingkat kabupaten. Telitinya memainkan bidak-bidak catur
menggentarkan lawannya yang lebih tinggi badannya dan posturnya. Dia masih
belum percaya ketika saya mengabarkan lirih di telinganya bahwa dialah sang
juara. Matanya masih seakan tak percaya. Yang dia tahu, setiap main menang. Tak
sadar poin yang dikumpulkan paling tinggi. Pelukan semangat dan selamat dariku
menagih janji hati untuk membelikan papan catur yang dia tak punya selama ini.
Ternyata kabar menangnya catur membakar semangat tim voli.
"Catur
menang, kalian bawa nomer juga ya!" seruku.
Mental juara yang ditanam dari awal latihan
ternyata ampuh, anak-anak tenang sekali bermain. Operan dari Dhea, dismash
Vena jatuh mengoyak pertahanan lawan.
Teriakan semangat Bu Yuliana membawa lapangan menjadi semakin sengit
persaingan. Eka yang biasanya mengumpulkan poin tambahan untuk lawannya memilih
membalas dengan meniti pasti pundi-pundi poin yang bertambah untuk timnya. Ovita
si tukang servis yang menukik membuyarkan pertahanan lawan.
Siang itu terasa lengkap ketika sms datang dari Bu Asti
bahwa bulu tangkis mendapat juara 3. Inilah kebahagiaan yang tidak bisa di
nilai dengan uang. Kebahagiaan mendampingi anak-anak yang telah memiliki perubahan sikap
juga menjadi kepuasan pribadi. Terutama hati.
Namun kembali lagi, sepasang itu tak pernah lepas di hari
itu. Kepuasan, kebahagiaan, yang terasa manis sekali disore hari berbalik.
Tangisan. Kesedihan. Duka. Mendung siang itu menjadi mendung di bawah langit Gunung Agung. Masih tidak percaya hingga saat ini. Pemimpin di tempat penugasanku yang belum
satu tahun menjalankan tugasnya sebagai Pak Camat tutup usia sedemikian cepat. Aku dan teman-temanku yang bertugas di kecamatan Gunung Agung sangat akrab dengan beliau. Kabar simpang siur kami buktikan langsung dengan menuju rumah sakit Sharon yang terdekat di tempat
tinggal kami.
Meskipun beliau bukan suku Jawa, di daerah yang diamanahkan
Bupati kepada beliau mayoritas warga transmigrasi dari Suku Jawa. Blangkon dan baju khas jawa menjadi
saksi bahwa beliau tak mau disebut sebagai orang asing di daerah tempat
tugasnya, aku pun merasa seperti itu juga, tak mau disebut sebagai seorang
yang asing di tempat di mana aku di tugaskan. Beliau punya cara yang unik,
cepat dalam berbaur bersama masyarakat, dari lini bawah, hingga lini atas.
Tangisan. Kesedihan. Berat di tinggal orang yang baik hati
dan cara memimpin yang berbeda dengan orang kebanyakan. Keasrian kampung apalagi di ibu
kota kecamatan, selalu digencarkan oleh beliau. Mushola berdiri kokoh di
belakang kantor merupakan peninggalan bisu karena beliau memegang amanah dengan
sebaik mungkin. Aku banyak belajar dari bapak Camat yang mimpin rakyatnya
dengan nyentrik ini. Setiap di undang warganya, beliau pun memenuhi.
Benar-benar Bapak Azuar, SH. Menjadi camat yang amanah dan
mati tenang. Beliau dalam obrolan dan candaannya selalu menyelipkan kata-kata
itu. Masih teringat ketika perkenalan diawal beliau menjabat, dilam bus yang panas di Panaragan sembilan bulan yang lalu.
Berpelukan sedih dengan Monic ketika benar-benar membuktikan
berita itu di depan jenazahnya. Tumpah air mata. Dalam sehari aku belajar
tentang sepasang bermakna. Yang tak
pernah didustai oleh siapapun. Dari sekitar, alam, semesta, dan Tuhan. Belajar
dari pelosok Lampung yang nama Gunung Agung belum tertulis di peta.