Rabu, 18 Desember 2013

17.12.13


Di semesta yang fana kita hanya di berikan hanya sepasang yang bermakna oleh Tuhan. Sepasang makna. Sedih senang. Kaya miskin. Muda tua. Kecil besar. Tidak di berikan sesuatu yang setengah-setengah atau ganyong (bahasa local people). Kalau ganyong kita menganggap belum bermakna yang mutlak. Bukankah telah dipastikan dalam firman Tuhan kalau di dunia ini memang telah di ciptakan hidup bepasang-pasangan? 
Siapa yang akan mendustakan?

Kalah menang. Laki-laki perempuan. Gembira duka.  Alangkah jika kita masih mencari siapa jodoh kita, padahal juga telah dipersiapkan yang paling pas untuk setiap insannya yang sabar menunggu.
Di tanggal 17 Desember 2013. Penghujung tahun, di akhir penugasanku di Gunung Agung. Dalam sekali waktu. Di pagi siang, sore malam, merasakan yang namanya sepasang. Sepasang perasaan yang memang pasti dirasa.

Pagi ke siang murid-muridku menggondol empat piala sekaligus di bidang olahraga. Rasa senang yang tak terhingga bersama teman-teman guru seperjuangan terbayar lunas. Senyum dan perasaan bahagia terkuras di hari itu. Sekolah yang jauh dari pandangan masyarakat, sekolah yang selalu mendapat predikat dibawah, lantas kini di antarkan ke puncak kejayaan oleh anak-anak bertalenta, yang mempunyai bakat. Dari sekolah yang guru-gurunya rata-rata minder karena usia sudah mulai menyentuh batas pensiun.  Alhamdulillah..

Piala-piala tampak bertengger rapi di ruang kepala sekolah, piala yang hanya dua saja hasil dari kejuaraan terbuka peringatan hari jadi Sekolah Menengah Pertama di Unyil beberapa bulan yang lalu bertambah dengan empat piala. Enam piala. Bahagia rasanya. Anak-anak memboyong-boyong piala. Mereka belum pernah tahu dari dekat seperti apa piala itu. Guru-guru tersenyum manis. Semanis melukis pelangi.

Anak-anak pelosok memang penuh bintang. Bintang harapan negara dan bangsa. Si Faris mengantarkan juara takraw dengan engkolan tendangan yang lihai. Bola-bola dari kulit rotan yang dianyam rapi dimainkannya. Kaki yang luwes membawa tim dan kawan-kawannya mencetak poin yang tinggi di banding lawan-lawannya.

Dewi. Si jagoan Margajaya yang nanti pasti mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Telitinya memainkan bidak-bidak catur menggentarkan lawannya yang lebih tinggi badannya dan posturnya. Dia masih belum percaya ketika saya mengabarkan lirih di telinganya bahwa dialah sang juara. Matanya masih seakan tak percaya. Yang dia tahu, setiap main menang. Tak sadar poin yang dikumpulkan paling tinggi. Pelukan semangat dan selamat dariku menagih janji hati untuk membelikan papan catur yang dia tak punya selama ini.

Ternyata kabar menangnya catur membakar semangat tim voli. 
"Catur menang, kalian bawa nomer juga ya!" seruku.
Mental juara yang ditanam dari awal latihan ternyata ampuh, anak-anak tenang sekali bermain. Operan dari Dhea, dismash Vena  jatuh mengoyak pertahanan lawan. Teriakan semangat Bu Yuliana membawa lapangan menjadi semakin sengit persaingan. Eka yang biasanya mengumpulkan poin tambahan untuk lawannya memilih membalas dengan meniti pasti pundi-pundi poin yang bertambah untuk timnya. Ovita si tukang servis yang menukik membuyarkan pertahanan lawan.

Siang itu terasa lengkap ketika sms datang dari Bu Asti bahwa bulu tangkis mendapat juara 3. Inilah kebahagiaan yang tidak bisa di nilai dengan uang. Kebahagiaan mendampingi anak-anak yang telah memiliki perubahan sikap juga menjadi kepuasan pribadi. Terutama hati.

Namun kembali lagi, sepasang itu tak pernah lepas di hari itu. Kepuasan, kebahagiaan, yang terasa manis sekali disore hari berbalik. Tangisan. Kesedihan. Duka. Mendung siang itu menjadi mendung di bawah langit Gunung Agung. Masih tidak percaya hingga saat ini. Pemimpin di tempat penugasanku yang belum satu tahun menjalankan tugasnya sebagai Pak Camat tutup usia sedemikian cepat. Aku dan teman-temanku yang bertugas di kecamatan Gunung Agung sangat akrab dengan beliau. Kabar simpang siur kami buktikan langsung dengan menuju rumah sakit Sharon yang terdekat di tempat tinggal kami.

Meskipun beliau bukan suku Jawa, di daerah yang diamanahkan Bupati kepada beliau mayoritas warga transmigrasi dari Suku Jawa. Blangkon dan baju khas jawa menjadi saksi bahwa beliau tak mau disebut sebagai orang asing di daerah tempat tugasnya, aku pun merasa seperti itu juga, tak mau disebut sebagai seorang yang asing di tempat di mana aku di tugaskan. Beliau punya cara yang unik, cepat dalam berbaur bersama masyarakat, dari lini bawah, hingga lini atas.

Tangisan. Kesedihan. Berat di tinggal orang yang baik hati dan cara memimpin yang berbeda dengan orang kebanyakan. Keasrian kampung apalagi di ibu kota kecamatan, selalu digencarkan oleh beliau. Mushola berdiri kokoh di belakang kantor merupakan peninggalan bisu karena beliau memegang amanah dengan sebaik mungkin. Aku banyak belajar dari bapak Camat yang mimpin rakyatnya dengan nyentrik ini. Setiap di undang warganya, beliau pun memenuhi.

Benar-benar Bapak Azuar, SH. Menjadi camat yang amanah dan mati tenang. Beliau dalam obrolan dan candaannya selalu menyelipkan kata-kata itu.  Masih teringat ketika perkenalan diawal beliau menjabat, dilam bus yang  panas di Panaragan sembilan bulan yang lalu.         


Berpelukan sedih dengan Monic ketika benar-benar membuktikan berita itu di depan jenazahnya. Tumpah air mata. Dalam sehari aku belajar tentang  sepasang bermakna. Yang tak pernah didustai oleh siapapun. Dari sekitar, alam, semesta, dan Tuhan. Belajar dari pelosok Lampung yang nama Gunung Agung belum tertulis di peta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar