Sabtu, 01 Juni 2013
Kabupaten Tulang Bawang Barat
Di sana adalah tempat saya berjuang, menghadapi kesendirian, terpisah dengan orang-orang yang menyayangi dan yang saya sayangi. Awalnya saya berfikir inilah langkah untuk menuju suatu kesempurnaan hidup. Menjadi seorang pengajar muda yang notabene pekerjaan yang sangat mengasyikkan dan di idam idamkan oleh ribuan pemuda pemudi lulusan perguruan tinggi negeri se Indonesia. Mereka (juga saya) berbondong bondong ingin melunasi janji kemerdekaan. Berebut menyalakan lilin dalam kegelapan. Ingin tidak selalu mengecam negara. Berkoontribusi dalam pengabdian dan ketulusan, atau ingin mencari mutiara-mutiara bangsa yang berpotensi. Inilah waktu untuk mengabdikan diri. Inilah waktu untuk menantang asa dan perjuangkan idialisme.Mengkontruksi pola pikir yang lebih maju untuk melek pendidikan. Membuka peluang mutiara mutiara kecil itu untuk berprestasi.
Apa daya, ketika disebutkan penempatan Tulang Bawang Barat, daerah bagian Barat Indonesia dan saya sudah sampai di bumi Transmigran Lokal dari bagian Lampung manapun, betapa herannya, daerah ini sangat kaya potensinya. Perkebunan karet hasilnya melimpah, jika getah karet itu di jual, harganya berkisar antara IDR 6000 sampai bahkan jika petani karet beruntung pasarannya naik hingga IDR 15.000.
Dijalanan motor merk Ninja sering keluyuran, KLX, apalagi.. Pajero, waahh...
Desaku banyak orang mampu dan ekonominya bagus, namun sayang, terbalik dengan potensi pendidikannya. Sekolah ala kadarnya, sarapan jarang dilakukan, perhatian orangtua di sini minim. Anak-anak pun terkungkung pengetahuan dan wawasannya.
Sekali lagi, saya masih ngomong tentang transmigran lokal jawa ini. Di bilang jawa ya bukan, di bilang lampung ya bukan, jawanya udah beda, karakternya udah beda. Dua kali lipat saya berfikir dan meluangkan waktu untuk merenung tentang ketidakmeratanya semua aspek di sini. Di Indonesia. Hai! melek! lihat daerah Indonesia di ujung selatan Sumatra ini!
Pelosok. itulah yang saya ingin beritahukan, ternyata pelosok bukan sekedar jauhnya jarak dari kota besar. bukan sekedar minimnya akses informasi dan internet. Di sini pelosoknya berbeda, Istimewa. Jika menginjakkan kaki di Bumi Ragem Sai Wawai apalagi di daerah seberang Way (sungai) Tulang Bawang, dan menetap agak lama (seperti saya) kepelosokan di sini ya keterpelosokan dari segi emosional dan sosiologi masyarakatnya. Entah jaman dahulu para masyarakat yang di transmigrankan (dipindahkan dengan 'keterpaksaan') dari desa-desa dan hidup di desa yang lebih desa (lagi) dan sekarang banyak OKB di desa saya. Tetapi sayang.. OKB nya bukan untuk mengedukasi keturunannya. Tapi sebagian kecil ada yang teredukasi para orangtua untuk mau mengedukasi -duit-duitnya- ke kampus-kampus. yah,, masih ada semangat untuk perubahan bagi para lulusan kampus di desa ini nantinya.
Perubahan bukan dari saya yang sekarang sedang menyandang : -pengajar muda-. Perubahan dari masyarakat sendiri dan pemangku pendidikan di sini. Saya sudah cukup senang berkenalan dengan warga desa di sini, dan orang orang yang sebagian kecil sangat peduli pendidikan. Kurang tujuh bulan lagi waktu saya. Semoga kontribusi saya di tanah yang nanti menjadi sejarah hidup yang tak bisa digantikan oleh apapun membawa dampak positif untuk di desaku dan saya pribadi.
Tanah ini adalah tanah emas, tempat harta karun bagi mereka yang mau bekerja keras. Semoga kelak menjadi emas untuk pendidikan Bangsa Indonesia.
Tulang Bawang Barat
1 Juni 2013
Langganan:
Postingan (Atom)