Jumat, 21 Februari 2014

Suara berproses, ataukah proses bersuara?



Tiba-tiba aku mencintai proses. Meskipun konsep dan aplikasi proses sudah mendengung di telingaku sejak lama. Tiba-tiba aku mencintai proses, proses teruju karena meruntut dari awal peristiwa, juga  penggalan-penggalan peristiwa yang tersusun menguntai rapi memproduksi kisah yang indah. Tiba-tiba aku mencintai proses, padahal proses selalu tidak bersahabat dengan kesuksesan dan hasil yang diidamkan.

Bagiku, di dua minggu awal Februari 2014 aku berproses cepat. Tanpa klamufase, tanpa tanda-tanda atapun segalanya yang menuju ke proses. Di giring aku menuju konsep ekonomi mikro, konsep tata keluarga di masa depan, konsep pemberdayaan masyarakat, juga alasan roman mengabdi di sebuah pulau kecil di sudut  Sulawesi.  Cerita-cerita masa awal tahun 90an di berbagai sudut kota pun lembut mengalun masuk ke kalbuku, aku sangat hafal intonasinya, cara menyampaikannya tak pernah membuat jenuh siapapun yang mendengarnya. Suara seseorang yang memaksa alam imajiku memasuki kronologi kehidupannya.
Di Surabaya dia lahir, dari keluarga yang sangat displin dalam beribadah dan menjunjung ilmu. Aku pernah berjumpa dengan keluarga yang membesarkannya.  Bertemu orang tuanya dan adik yang dibanggakannya. Hangat suasana ketika Mem, ibunya, menyuguhkan sarapan pagi untukku dan Mbak Yanti. Kami semua bercengkrama mengalir saja. Layaknya air sungai yang mengalir menghabiskan aliran sungainya sampai hulu.
Kehidupan keluarga ini ternyata tak sehangat obrolan pagi kala sarapan terbentang di depan kami. Pemilik suara membeberkan masa-masanya, dari kelahirannya kemudian hijrah menuju Jakarta. Di Jakarta kehidupan yang dilakoni mulai keras, memasuki SD swasta AlHidayah, SD pinggiran yang murid-muridnya anak pedagang, anak pemulung, anak-anak yang orang tuanya kesusahan jika di masukkan ke SD Negeri  maka SPP di pastikan memberatkan para pedagang asongan dan pemulung.
Aku jadi mengingat masa kecilku, orang tuaku menyekolahkanku di SD Negeri yang lumayan mahal SPP  nya. 5000 rupiah di sekolahku saat itu, padahal, nasi rawon di depan sekolah hanya 500 rupiah sepiring. SD  Al Hidayah mungkin seperti  SD Laskar pelangi, namun mirisya  ada di  Jakarta, kota nomer wahid di negeri ini.  Sekolah itu  terbatas muridnya, terbatas prasarananya, namun menggembleng seseorang pemilik suara renyah untuk berprestasi dan masuk ke SMP Negeri di Jakarta. SD itu kabarnya masih sama. Sama seperti saat di tinggalkannya di tahun 1998.
SMP nya di warnai dengan belajar kehidupan, belajar pula memasuki dunia remaja dengan mencetak NEM tinggi dan masuk ke SMA Favorit di  Jakarta. Ketika ku tanya kesan dari sekolah pinggir masuk ke sekolah negeri yang luar biasa, dengan teman yang banyak dan bertemu beragam karakter yang jauh berbeda dengan masa kecilnya, jawabnya jujur mendasar, rasa rendah diri menghantuinya saat-saat itu. Aku pun bercermin, pernah aku sangat rendah diri di hadapan teman-teman yang pernah bertemu dan bersama-sama hidup setahun di perantauan. Namun mengapa rasa itu terawat sempurna, aku malu mengakui di depannya.
Semakin malu mengakui, dan menyesal mengapa dahulu terawat sempurna sifatku, ketika suara itu menari mengelayut diksi merangkai kisah dimana seleksi masuk perguruan tinggi negeri mengundangnya tanpa tes masuk sekaligus di dua perguruan tinggi ternama.
UGM menjadi pilihannya. Ternyata mimpi yang sudah terkait sejak TK membawanya di kampus orang-orang pintar. Orang-orang pintar, kata Memnya  begitu. Dan itu membawa si empu suara hijrah ke Jogya. Jogya yang tak pernah di jamahnya dan di tinggalinya selama 5 tahun lebih. Awal datang perjuangan keras untuk berusaha bersahabat dengan kota yang terkenal kearifan lokal penduduk dan budaya suku Jawa. Menelan ilmu-ilmu akademis dan menetaskan pengalaman-pengalaman hidup yang luar biasa.
Aku tak pernah tinggal di Jogya. Sebagai pelesir aku memang pernah ke sana. Terakhir ke Borobudur di kelas lima SD bersama rombongan sekolahku. Aku jadi ingin ke Jogya. Menyaksikan dan menelaah di  sana dengan sudut pandang yang berbeda, diusiaku yang sudah dua kali lipat lebih saat terakhir ke sana.
Aku bertemu si pemilik suara di Surabaya. Saat ada tes kerja menjadi pengabdi di ujung-ujung Indonesia. Ku berikan name tag tulis di depannya saat pemilik suara itu baru memasuki kelas. Kami sempat mengobrol tentang latar belakang kami. Suara-suara itu pun mulai terngiang saat kami sama-sama lolos menjadi pengabdi. Dering handponeku muncul namanya. Bercengkrama nan manis dimulai sebelum memasuki dunia pelatihan. Saling mengabari dan bercerita tentang persiapan-persiapan menuju ke sana. Aku pernah tertinggal saat perjalanan menuju Jakarta. Lemas saat aku tak bisa mendengar suaranya melalui handphoneku. Sudah dimatikan handphonenya, artinya pesawat membawanya melintasi langit pulau Jawa. Aku merasakan kalau dia sangat waswas dengan keadaanku setelah satu setengah jam suaranya kembali menghiasi gelombang udara dan sampai di telingaku. Dia menanyakan kabarku. Aku berusaha menenangkan dan akan menyusul ke sana. Aku menangkap pandangan leganya ketika aku dan dia berhadapan di depannya di tempat yang sama di Galuh II. Kemudian dia pergi. Melangkah menjauh dan bergabung dengan teman-temannya.
Saat itu aku menatapnya dari jauh. Dia berjalan dengan teman-teman barunya dengan memakai jaket batik yang sampai saat ini sering dikenakan.
Selama pelatihan aku tak pernah mendengar lagi suara itu, mendengar secara pribadi. Aku teringat kebaikannya dan ketulusannya sebelum masuk camp, aku menganggap dia sebagai ‘mas’. Aku sering manja meminta diusap kepalaku. Tanpa ada perasaan chemistry apapun. Tulus sebagai saudara sedaerah. Saat di awal penempatan aku sering mendengar suaranya berkisah pulau kecilnya Tembang.
Aku membanggakan dia, tanpa cela dan masih tetap sebagai saudara. Kami dekat tanpa rencana ketika pulang dari tanah pengabdian kami. Berjalan bersama mengupas kehidupan Suku Badui, pulang dengan kereta api Argo Lawu bersama mbak Yanti tanpa perjanjian sebelumnya.  Dan di saat dua minggu terakhir di bulan Januari, suara-suara itu sering menghiasi hari-hariku di kota Surabaya yang indah. Mengejutkanku ketika suara itu mengaku memendam rasa saat pertama bertemu dan perjuangannya membuka hatiku.
Suara itu mengenalkan proses dengan detail padaku. Suara itu menyejukkan hatiku takkala Ayahku ditemuinya dirumahku.  Kedatangannya mendamaikan hatiku serta mendatangkan perasaan yang berbeda. Insyaallah, nantinya suara itu menemani perjalanan hidupku. Membimbingku dan membangun keluarga yang benar-benar bahagia.

Aku ingat, pakar pendidikan pak Munif Chatib, menerangkan tentang macam-macam gelombang otak. Saat beliau menerangkan suara, ternyata suara tak akan pernah berubah. Suara tak akan pernah hilang, mengikuti gelombang dan tersambung ke otak.  Dan otakku akan selalu mendengarkan pemilik suara itu bercerita perjuangan-perjuangannya nanti. Suara itu akan selalu membuatku terpukau. Suara itu akan mengantarkanku dalam mengalami fase kehidupan yang baru. Suara renyah itu dimiliki seseorang  yang kehidupannya berproses dengan baik, dari anak SD pinggiran disalah satu sudut pinggiran Jakarta, sekarang mampu menjadi punggung keluarganya, dan sangat dibanggakan Mega, adik kandungnya. Dia calon suamiku, aku mempercayakan hidupku padanya, Fitra Luqman Hidayat.

Minggu, 05 Januari 2014

Kilas Balik Perjalanan Setahun dari Malang ke Pedalaman Lampung



Aku meninggalkannya untuk waktu yang lama tak berbatas, kabupaten Tuba Barat yang  mengenalkan bagaimana aku belajar untuk bersikap dan mendewasakanku ini harus segera di ikhlaskan. Air mata jatuh berurai saat mobil Avanza meniti jalanan hitam berlubang sana-sini.
 
 Setahun yang lalu, saat pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Udara Radin Inten,  tak pernah terlintas akan menginjakkan kaki di tanah Lampung. Mungkin dulu saat sebelum di putuskan di tempatkan di sini aku tak pernah menduga sebelumnya. Tuntunan mozaik-mozaik dari cerita Lampung sangat terasa sekali terngiang-ngiang dari telinga menuju hati. Temanku di asal muasalku, -Kota Malang- selalu menceritakan Lampung, ketika masa pelatihan juga di singgung tentang keadaan tantangan geografis dan sosiologis yang seimbang, sebelumnya juga tersentil nama Tulang Bawang, jauh sebelum aku masuk di bangku kuliah. Ya, memang Tulang Bawang Barat. Tempat yang di persiapkan semesta dan Tuhan untuk aku mengabdi dan berbakti.

Sekali lagi, aku  juga tak menyangka, Lampung akan menjadi saksi perjalanan masa mudaku. Menghabiskan rentangan waktu di sepanjang usia 23. Patut ku syukuri bertemu banyak saudara dan orang tua baru juga keluarga baru. Tentunya dengan murid-murid penuh Bintang Harapan di desaku.

Jauh di kecamatan Gunung Agung, aku memasuki dunia baruku. Saat itu jalanan di sana masih berbatu dan penuh lumpur saat hujan. Berkali-kali aku terjatuh di dalam kubangan lumpur. Saksi motor TVS merah itulah yang selalu aku tunggangi kemana-mana. Baju dan tas lusuh terkena lumpur sudah biasa. Memar memar di bagian bagian tubuhku sering aku alami. Apalagi saat musim panas tiba, daun-daun, genteng rumah warga, apalagi terasnya, dipenuhi butiran debu yang tebal, daun hijau pun di kuas warna coklat, genteng pun berhias debu. Sumur di rumah yang aku diami juga tak kunjung hadir airnya. Kering. Sumur bor satu-satunya harapan.

Ada jalan yang aku paling tak suka. Di daerah kampung sawah. Di kampung sawang ini menghubungkan antara rumahku dan kedua temanku. Kontur jalannya berbatu, kalau siang hari debunya nyaris membuat sesak di dada. Apalagi jika beradu dengan truk pengangkut singkong. Asap kendaraan raksasa membuat pedih mata juga menerbangkan debu di jalanan. Helm putih SNI lusuhku yang menyelamatkan wajahku. Meski oleh-oleh setahun ini, wajahku semakin manis eksotis. Yang membuat aku semakin tak suka, jalanan ini musti dilewati, tak ada pilihan lain. Biasanya aku melewati kebun-kebun karet, menerabas ladang orang lain untuk menghindari sengatan matahari dan truk-truk penganngkut singkong, apalagi sopirnya. Kadang mereka reseh, membunyikan klaksonnya keras-keras saat aku melintas. Telingaku serasa pecah.

Sekarang pembangunan dan perbaikan daerah di Gunung Agung mulai gencar, jalan dari pusat kegiatan ekonomi warga di Unit dua sampai desaku sudah di aspal. Meskipun kabar yang aku dengar komposisi antara bahan aspal dan jalan batu tak sesuai dengan yang direncanakan. Perbaikan jalur provinsi di ratakan kembali. Menuju desa sahabatku sekarang tak perlu melewati kampung sawah. Tak perlu menghabiskan waktu dijalan selama 45 menit, perbaikan jalan memangkas watu perjalanan menjadi 30 menit saja.
Selain itu,  jalan-jalan yang masih tanah sudah di makadam dengan batu-batu yang dijajar rapi. Mungkin sepuluh tahun lagi Gunung Agung di Tuba Barat sudah maju dan aku mungkin juga tak mengenalinya jika aku ingin bercumbu mengenang masaku di sana.

Sekolahku tempat mengabdi menarik hati. Ada pohon asem yang di tanam di sebelah barat kantor guru, di sana tempat berbagi hati. Berbagi hati sesama guru, sesama siswa, dengan Bik Mis pemilik warung sekolah, dan tentunya media berbagi hatiku dengan murid-murid kesayanganku. Belajar, cerita, bermain, menunggu, dan menghabiskan waktu soreku di rindangnya daun daun mungil pohon Asem.

Banyak ku temui kebiasaan masyarakat yang di luar kemampuanku berfikir. Ternyata di balik semua itu ada pembelajaran yang aku dapat di sana. Bertemu tokoh pendidikan, perintis kemajuan daerah, para pemangku kebijakan dan sampai tingkat paling kecil di keluargaku. Di paksa aku untuk menyerap semuanya dan memfilter hikmah perjalanan hidup dan tantangannya.

Desaku Margajaya, Gunung Agung, Tulang Bawang Barat.Daerah transmigrasi lokal keturunan suku Jawa. Jauh dari keramaian kota. Ketenangan akan di dapatkan disana tanpa kemacetan dan keruwetan sibuknya suasana kota.  Setahun lebih dua bulan aku bertugas.  
Perjalananku yang  diantar mobil Avanza putih meniti jalanan aspal berlubang sana-sini, dalam suasana sedih di hiasi airmata, aku merenungi, bagaimana belajar memaknai hidup ikhlas secara utuh di sini. Tuba Barat.

Lampung, 4 Januari 2014

   

  

Rabu, 18 Desember 2013

17.12.13


Di semesta yang fana kita hanya di berikan hanya sepasang yang bermakna oleh Tuhan. Sepasang makna. Sedih senang. Kaya miskin. Muda tua. Kecil besar. Tidak di berikan sesuatu yang setengah-setengah atau ganyong (bahasa local people). Kalau ganyong kita menganggap belum bermakna yang mutlak. Bukankah telah dipastikan dalam firman Tuhan kalau di dunia ini memang telah di ciptakan hidup bepasang-pasangan? 
Siapa yang akan mendustakan?

Kalah menang. Laki-laki perempuan. Gembira duka.  Alangkah jika kita masih mencari siapa jodoh kita, padahal juga telah dipersiapkan yang paling pas untuk setiap insannya yang sabar menunggu.
Di tanggal 17 Desember 2013. Penghujung tahun, di akhir penugasanku di Gunung Agung. Dalam sekali waktu. Di pagi siang, sore malam, merasakan yang namanya sepasang. Sepasang perasaan yang memang pasti dirasa.

Pagi ke siang murid-muridku menggondol empat piala sekaligus di bidang olahraga. Rasa senang yang tak terhingga bersama teman-teman guru seperjuangan terbayar lunas. Senyum dan perasaan bahagia terkuras di hari itu. Sekolah yang jauh dari pandangan masyarakat, sekolah yang selalu mendapat predikat dibawah, lantas kini di antarkan ke puncak kejayaan oleh anak-anak bertalenta, yang mempunyai bakat. Dari sekolah yang guru-gurunya rata-rata minder karena usia sudah mulai menyentuh batas pensiun.  Alhamdulillah..

Piala-piala tampak bertengger rapi di ruang kepala sekolah, piala yang hanya dua saja hasil dari kejuaraan terbuka peringatan hari jadi Sekolah Menengah Pertama di Unyil beberapa bulan yang lalu bertambah dengan empat piala. Enam piala. Bahagia rasanya. Anak-anak memboyong-boyong piala. Mereka belum pernah tahu dari dekat seperti apa piala itu. Guru-guru tersenyum manis. Semanis melukis pelangi.

Anak-anak pelosok memang penuh bintang. Bintang harapan negara dan bangsa. Si Faris mengantarkan juara takraw dengan engkolan tendangan yang lihai. Bola-bola dari kulit rotan yang dianyam rapi dimainkannya. Kaki yang luwes membawa tim dan kawan-kawannya mencetak poin yang tinggi di banding lawan-lawannya.

Dewi. Si jagoan Margajaya yang nanti pasti mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Telitinya memainkan bidak-bidak catur menggentarkan lawannya yang lebih tinggi badannya dan posturnya. Dia masih belum percaya ketika saya mengabarkan lirih di telinganya bahwa dialah sang juara. Matanya masih seakan tak percaya. Yang dia tahu, setiap main menang. Tak sadar poin yang dikumpulkan paling tinggi. Pelukan semangat dan selamat dariku menagih janji hati untuk membelikan papan catur yang dia tak punya selama ini.

Ternyata kabar menangnya catur membakar semangat tim voli. 
"Catur menang, kalian bawa nomer juga ya!" seruku.
Mental juara yang ditanam dari awal latihan ternyata ampuh, anak-anak tenang sekali bermain. Operan dari Dhea, dismash Vena  jatuh mengoyak pertahanan lawan. Teriakan semangat Bu Yuliana membawa lapangan menjadi semakin sengit persaingan. Eka yang biasanya mengumpulkan poin tambahan untuk lawannya memilih membalas dengan meniti pasti pundi-pundi poin yang bertambah untuk timnya. Ovita si tukang servis yang menukik membuyarkan pertahanan lawan.

Siang itu terasa lengkap ketika sms datang dari Bu Asti bahwa bulu tangkis mendapat juara 3. Inilah kebahagiaan yang tidak bisa di nilai dengan uang. Kebahagiaan mendampingi anak-anak yang telah memiliki perubahan sikap juga menjadi kepuasan pribadi. Terutama hati.

Namun kembali lagi, sepasang itu tak pernah lepas di hari itu. Kepuasan, kebahagiaan, yang terasa manis sekali disore hari berbalik. Tangisan. Kesedihan. Duka. Mendung siang itu menjadi mendung di bawah langit Gunung Agung. Masih tidak percaya hingga saat ini. Pemimpin di tempat penugasanku yang belum satu tahun menjalankan tugasnya sebagai Pak Camat tutup usia sedemikian cepat. Aku dan teman-temanku yang bertugas di kecamatan Gunung Agung sangat akrab dengan beliau. Kabar simpang siur kami buktikan langsung dengan menuju rumah sakit Sharon yang terdekat di tempat tinggal kami.

Meskipun beliau bukan suku Jawa, di daerah yang diamanahkan Bupati kepada beliau mayoritas warga transmigrasi dari Suku Jawa. Blangkon dan baju khas jawa menjadi saksi bahwa beliau tak mau disebut sebagai orang asing di daerah tempat tugasnya, aku pun merasa seperti itu juga, tak mau disebut sebagai seorang yang asing di tempat di mana aku di tugaskan. Beliau punya cara yang unik, cepat dalam berbaur bersama masyarakat, dari lini bawah, hingga lini atas.

Tangisan. Kesedihan. Berat di tinggal orang yang baik hati dan cara memimpin yang berbeda dengan orang kebanyakan. Keasrian kampung apalagi di ibu kota kecamatan, selalu digencarkan oleh beliau. Mushola berdiri kokoh di belakang kantor merupakan peninggalan bisu karena beliau memegang amanah dengan sebaik mungkin. Aku banyak belajar dari bapak Camat yang mimpin rakyatnya dengan nyentrik ini. Setiap di undang warganya, beliau pun memenuhi.

Benar-benar Bapak Azuar, SH. Menjadi camat yang amanah dan mati tenang. Beliau dalam obrolan dan candaannya selalu menyelipkan kata-kata itu.  Masih teringat ketika perkenalan diawal beliau menjabat, dilam bus yang  panas di Panaragan sembilan bulan yang lalu.         


Berpelukan sedih dengan Monic ketika benar-benar membuktikan berita itu di depan jenazahnya. Tumpah air mata. Dalam sehari aku belajar tentang  sepasang bermakna. Yang tak pernah didustai oleh siapapun. Dari sekitar, alam, semesta, dan Tuhan. Belajar dari pelosok Lampung yang nama Gunung Agung belum tertulis di peta. 

17.12.13


Di semesta yang fana kita hanya di berikan hanya sepasang yang bermakna oleh Tuhan. Sepasang makna. Sedih senang. Kaya miskin. Muda tua. Kecil besar. Tidak di berikan sesuatu yang setengah-setengah atau ganyong (bahasa local people). Kalau ganyong kita menganggap belum bermakna yang mutlak. Bukankah telah dipastikan dalam firman Tuhan kalau di dunia ini memang telah di ciptakan hidup bepasang-pasangan? 
Siapa yang akan mendustakan?

Kalah menang. Laki-laki perempuan. Gembira duka.  Alangkah jika kita masih mencari siapa jodoh kita, padahal juga telah dipersiapkan yang paling pas untuk setiap insannya yang sabar menunggu.
Di tanggal 17 Desember 2013. Penghujung tahun, di akhir penugasanku di Gunung Agung. Dalam sekali waktu. Di pagi siang, sore malam, merasakan yang namanya sepasang. Sepasang perasaan yang memang pasti dirasa.

Pagi ke siang murid-muridku menggondol empat piala sekaligus di bidang olahraga. Rasa senang yang tak terhingga bersama teman-teman guru seperjuangan terbayar lunas. Senyum dan perasaan bahagia terkuras di hari itu. Sekolah yang jauh dari pandangan masyarakat, sekolah yang selalu mendapat predikat dibawah, lantas kini di antarkan ke puncak kejayaan oleh anak-anak bertalenta, yang mempunyai bakat. Dari sekolah yang guru-gurunya rata-rata minder karena usia sudah mulai menyentuh batas pensiun.  Alhamdulillah..

Piala-piala tampak bertengger rapi di ruang kepala sekolah, piala yang hanya dua saja hasil dari kejuaraan terbuka peringatan hari jadi Sekolah Menengah Pertama di Unyil beberapa bulan yang lalu bertambah dengan empat piala. Enam piala. Bahagia rasanya. Anak-anak memboyong-boyong piala. Mereka belum pernah tahu dari dekat seperti apa piala itu. Guru-guru tersenyum manis. Semanis melukis pelangi.

Anak-anak pelosok memang penuh bintang. Bintang harapan negara dan bangsa. Si Faris mengantarkan juara takraw dengan engkolan tendangan yang lihai. Bola-bola dari kulit rotan yang dianyam rapi dimainkannya. Kaki yang luwes membawa tim dan kawan-kawannya mencetak poin yang tinggi di banding lawan-lawannya.

Dewi. Si jagoan Margajaya yang nanti pasti mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Telitinya memainkan bidak-bidak catur menggentarkan lawannya yang lebih tinggi badannya dan posturnya. Dia masih belum percaya ketika saya mengabarkan lirih di telinganya bahwa dialah sang juara. Matanya masih seakan tak percaya. Yang dia tahu, setiap main menang. Tak sadar poin yang dikumpulkan paling tinggi. Pelukan semangat dan selamat dariku menagih janji hati untuk membelikan papan catur yang dia tak punya selama ini.

Ternyata kabar menangnya catur membakar semangat tim voli. 
"Catur menang, kalian bawa nomer juga ya!" seruku.
Mental juara yang ditanam dari awal latihan ternyata ampuh, anak-anak tenang sekali bermain. Operan dari Dhea, dismash Vena  jatuh mengoyak pertahanan lawan. Teriakan semangat Bu Yuliana membawa lapangan menjadi semakin sengit persaingan. Eka yang biasanya mengumpulkan poin tambahan untuk lawannya memilih membalas dengan meniti pasti pundi-pundi poin yang bertambah untuk timnya. Ovita si tukang servis yang menukik membuyarkan pertahanan lawan.

Siang itu terasa lengkap ketika sms datang dari Bu Asti bahwa bulu tangkis mendapat juara 3. Inilah kebahagiaan yang tidak bisa di nilai dengan uang. Kebahagiaan mendampingi anak-anak yang telah memiliki perubahan sikap juga menjadi kepuasan pribadi. Terutama hati.

Namun kembali lagi, sepasang itu tak pernah lepas di hari itu. Kepuasan, kebahagiaan, yang terasa manis sekali disore hari berbalik. Tangisan. Kesedihan. Duka. Mendung siang itu menjadi mendung di bawah langit Gunung Agung. Masih tidak percaya hingga saat ini. Pemimpin di tempat penugasanku yang belum satu tahun menjalankan tugasnya sebagai Pak Camat tutup usia sedemikian cepat. Aku dan teman-temanku yang bertugas di kecamatan Gunung Agung sangat akrab dengan beliau. Kabar simpang siur kami buktikan langsung dengan menuju rumah sakit Sharon yang terdekat di tempat tinggal kami.

Meskipun beliau bukan suku Jawa, di daerah yang diamanahkan Bupati kepada beliau mayoritas warga transmigrasi dari Suku Jawa. Blangkon dan baju khas jawa menjadi saksi bahwa beliau tak mau disebut sebagai orang asing di daerah tempat tugasnya, aku pun merasa seperti itu juga, tak mau disebut sebagai seorang yang asing di tempat di mana aku di tugaskan. Beliau punya cara yang unik, cepat dalam berbaur bersama masyarakat, dari lini bawah, hingga lini atas.

Tangisan. Kesedihan. Berat di tinggal orang yang baik hati dan cara memimpin yang berbeda dengan orang kebanyakan. Keasrian kampung apalagi di ibu kota kecamatan, selalu digencarkan oleh beliau. Mushola berdiri kokoh di belakang kantor merupakan peninggalan bisu karena beliau memegang amanah dengan sebaik mungkin. Aku banyak belajar dari bapak Camat yang mimpin rakyatnya dengan nyentrik ini. Setiap di undang warganya, beliau pun memenuhi.

Benar-benar Bapak Azuar, SH. Menjadi camat yang amanah dan mati tenang. Beliau dalam obrolan dan candaannya selalu menyelipkan kata-kata itu.  Masih teringat ketika perkenalan diawal beliau menjabat, dilam bus yang  panas di Panaragan sembilan bulan yang lalu.         


Berpelukan sedih dengan Monic ketika benar-benar membuktikan berita itu di depan jenazahnya. Tumpah air mata. Dalam sehari aku belajar tentang  sepasang bermakna. Yang tak pernah didustai oleh siapapun. Dari sekitar, alam, semesta, dan Tuhan. Belajar dari pelosok Lampung yang nama Gunung Agung belum tertulis di peta. 

Rabu, 27 November 2013

LEBARAN DI MANAPUN TETAP ASYIK!


Suasana nan gundah di hati ini cukup terasa sebelum lebaran datang, banyak teman di sana bertanya,

“tidak mudik bu?”

“apa kabar hatimu, mbak?”

“sedih banget orang tua tahu ada anaknya yang nggak kumpul”

“denger Takbir apa nggak nangis, Bu?”

Sepatah, dua patah, aku jelaskan dengan logika dan pura-pura kuat di hadapan para penanya.
Memang ada gundah gulana, namun harus kuat, harus yakin Lebaran di sini aku harus mengalaminya.
Kadang update status dijejaring sosial bisa menyembuhkan butir-butir embun lara, pasti teman-teman dan para sahabat jauh di lintas pulau sana menguatkan hati ini lewat tuts-tuts bar smartphone milik mereka.
Takbir pun berkumandang ketika Menteri Agama, Surya DarmaAli, mengisbatkan 1 Syawal 1434H jatuh pada malam Kamis, Di tanggal 8 Agustus 2013. Ramai, semuanya turun ke jalan, poros desa pun penuh sesak, padahal jalanan batu masih menantang lancip-lancipnya dan tanah sedang licin-licinnya karna guyuran air yang membasahi bumi.

Aku berjalan ke rumah sahabatku, Anni. Dia mengajak berkeliling desa, ketika aku menceritakan sedikit kegalauan karna Ibuku menelepon mengabarkan bahwa beliau ngungsi sementara di rmah Nenek di Probolinggo, sedangkan ayahku tak bisa dihubungi, beliau  tak berkabar apa-apa dari kotak hitam ajaib yang layarnya sering ku sentuh ini.

Bermotor ke rumah Nita dengan menjemput si Sophie. Teman baruku yang kuliah di Tanjung Karangmengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris. Yang Ibunya percaya sama aku, tapi amanah itu tak berlangsung lama, karena si Sophie pulang terlambat 30 menitan dari deadline waktu karena sesuatu yang nanti ini akan ku ceritakan.

Anni, aku, juga si Sophie, dan empunya rumah si Nita, ngobrol simpang siur tentang harapan-harapan di Lebaran ini, sampai akhirnya temanku yang aku kenal lewat karang taruna desa datang dan mengajak pawai keliling ke desa lain. Dia pun membawa teman lagi, dan akhirnya meski hati berperang menentang bahwa tidak  layak untuk dilakukan, tapi akhirnya akupun mengiyakan ajakan teman-teman setelah dipaksa-paksa. =D

Sigit, Guru SMA juga, Agil, guru SMK yang baru di buka dan sedang mbabat alas di desa Margajaya, Wira, anak kampus Unila yang aku kenal baru ini, juga si Dani, eh entah aku lupa namanya, karenabaru ketemu sekali itu, naek motor sama-sama keliling ke unyil lalu ke SP2, entah setan mana, yang tiba-tiba dari Unyil balik ke sp4c malah bablas ke SP2C.

Tapi namanya di bonceng sama AKAMSI (anak kampung sini) -teman-teman PM TBB menyebutnya- ya aman damai sentosa. Mereka berempat yang membonceng kami sudah lihai dan insting mereka kuat, buktinya Pak Sigit yang membonceng aku kakinya tak kena lumpur sama sekali. Meski bibir mereka penuh cercaan ke si teman baruku yang aku lupa namanya karna dia yang ngajak ke SP2C, tapi mereka tetap tangguh meski jalan penuh air menggenang, gelap gulita, menembus ribuan pohon karet yang berbaris rapi, juga merayap setapak motor yang dilewati penderes karet tiap dini hari.  Banyangkan jika aku yang bawa, Si Rissa atau Monic udah tahu rasanya jatuh di lumpur gara-gara aku. =D

Meski Pak Sigit bertempur dengan jalanan merah, juga motor tak mendukung, aku dan pak Sigit menunggangi motor matic Mio punya Anni. Sedangkan pak Agil bawa KLX kawasaki gressnya, Pak sigit dan aku bertukar cerita tentang perjalanan jadi guru. Kami berdua memang guru, tapi ikut-ikutan pawai layaknya remaja belasan memang kurang baek, malu lah kalau ketemu murid-muridnya. Dari sini aku sadar tugas guru memam=ng berat, ya di sekolah, ya di rumah, ya di jalan, harus pandai-pandai jaga sikap. Ingat singkatan ala jawa, guru, digugu lan di tiru.

Akhirnya kami semua sampai di margajaya SP4Cdengan selamat, segera aku antar si Sophie kembali ke rumahnya, aku pun kembali ke rumah juga, aku gelar sajadahku, bemunajad padaNya, bertakbir dalam bisunya malam. Bersyukur karena di perantauan ada teman yang selalu setia menemani, bersyukur karena pagi esok solat ied,bersyukur karena punya keluarga baru yang baik hati,  tetapi hati ini sebenarnya sungguh sedih meratapi ramadhan yang telah pergi, sesungguhnya aku kurang sekali memanfaatkan ramadhan tahun ini. Banyak kegiatan dan kesibukan, juga tiba-tiba harus tidak puasa karena kodrat wanita yang aku terima.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar....

Bisikku dalam hati berkali-kali hingga aku tertidur pulas dengan senyuman.





3 SAJA DI MALAM AJAIB




Malam ini ada yang berbeda di desa ku, pertunjukan pasar malam.
Sederhana, hanya ada sepasang permainan anak anak, dan meja panjang untuk menguji keberuntungan para manusia berhati penuh penasaran. Di lengkapi para pedagang yang jualan makanan ringan dan mainan anak-anak.

Sebenarnya saya kurang tertarik dengan adanya pasar malam, siang-siang melewati hanya itu-itu saja yang di pasang. Ya. Memang sederhana.
Anak-anak muridku sudah mengabarkan adanya acara yang sederhana ini mulai kemarin-kemarin.
Tetangga kanan-kiri pun sudah heboh mencengkramakan hadirnya makhluk-makhuk besi tanpa nyawa di lapangan utara SMP.

Zzzzzz... Apa siih mereka. Pikirku. Gitu aja kok di bikin ramai.
Pasang tampang muka menyenangkan ketika muridku mengajak lihat di Pasar Malam. Nanti malam di buka lo Buuu.... Bu Farida lihat ya... ku balas senyuman.

Masuk ke malam hari.
Hapeku bergetar. SMS masuk dari Bu Asti, guru baru nan manis hatinya. Dia pun mengubah paradigma Pasar Malam desa di hatiku. Ajakan bu Asti menggelitik hati menjadi penasaran. Ku iyakan ajakannya dan segera ku ambil kamera digital pink yang tergeletak di atas meja.

Paradigma pasar malam desa di pikiranku berubah menjadi moment yang jarang-jarang ada di desa.
Aku tertawa, menertawakan diriku. Malu sebenarnya. Mengakui kalau Pasar Malam itu asyik sekali. Banyak lampu, sapaan riang anak-anak. Teman-teman karang taruna yang sudah lumayan lama tak berkabar, -dikira tugasku usai-.  Juga bercengkrama dengan orang tua wali murid yang sengaja datang melihat ramainya malam ini.
Ambil gambar dari dekat, dari jauh, dari dekat lagi, menjauh lagi. Padahal objeknya ya itu-itu saja. Tapi inilah moment. Jarang-jarang. =D

Ada bianglala berputar, ternyata naik ini bikin spot jantung. Takut, mungkin karena keamanannya saya tidak tahu, aman apa tidak. Pengamatanku ini mainan bianglala sepertinya barang lama, rantainya bikin begidik. Kuncian pintu bianglala yang miripsarang burung ini juga bikin ngeri, bagaimana kalau.. atau bagaimana jika... hadoo..  Aku sudah berkali-kali naik bianglala yang lebih besar dari ini. 4 kali lipat malah. Tapi biasa, nggak pakai takut. Yang ini kecil tapi bikin deg-deg. Deg-degnya dialihkan dengan teriak Wooooo setiap putaran bareng sama anak-anak. Hilang deeh degnya..

Mainan ke dua: kereta-keretaan. Bentuknya seperti naga, taring besar, lidah menjulur-julur, dan ternyata mesinnya rusak. Harus didorong tenaga manusia. Lucu. Aku tertawa di riuhnya gegap gemita pasar malam. Ada-ada aja. Anak-anak matanya yang sudah menyala ingin naik jadi meredup, kecewa pastinya. Jelas si manusia tenaganya tidak kuat, berat badan 15 anak di tambah berat badan makhuk besi naga tak bernyawa sudah berapa, belum lagi itungan jalan rel makhluk yang sepertinya kurang pelumas, bunyinya krek-krek-krek.

Mesin akhirnya bunyi. Wah, muridku yang mau naik mengantri buat pengecekan karcis. Si penjaga naga memacu naga tanpa penumpang. Sepertinya yang pertama kurang panas mesinnya. Malu-malu muridku tahu aku memperhatikannya menumpang badan si naga. Senyuum... aku ambil gambarnya lewat kameraku.
Meja keberuntungan. Aku tak tertarik sama sekali. Isinya pertaruhan uang. Permainan yang banyak mengandalkan bejo-bejoan. Biarkan orang sewasa yang main, asal murid saya tidak, sebenarnya datang ke sini juga memastikan kalau anak-anak tidak mengunjungi meja ini. Syukurlah kalau  anak-anak tertarik hanya dengan mainan saja.

Akupun tak membawa apa-apa ketika pulang. Inginya beli martabak manis, tapi yang jualan tutup. Makanan di sekitar pasar malam juga habis, sudah jam sembilan. Mataku ngantuk. Tapi ketemu dengan Bu Darti guru di sekolah timur sana menyenangkan hati. Beliau menceritakan tentang pengalamannya di Malang krtika ikut program yang kami kerjakan di Dindik TBB. Haa...jadi bangga, Malang di sebut dan di elunya.

Ajakan pulang karena malam aku iyakan. Pasar malam yang jarang-jarang ada pun jadi pembelajaranku malam ini. Toh yang sebenarnya biasa saja ketika benar-benar kita selami jadi luar biasa.  Paradigma kita jadi berubah. Biang lala, si naga dan meja keberuntungan ternyata jadi tempat yang berbeda ketika kita melihat dengan sisi yang berbeda. 3 saja di malam yang ajaib. Sederhana.
Yang jarang-jarang ada. Pasar Malam.

Margajaya.
Jumat, 4 Oktober 2013.