Malam ini ada yang berbeda di desa ku, pertunjukan pasar
malam.
Sederhana, hanya ada sepasang permainan anak anak, dan meja
panjang untuk menguji keberuntungan para manusia berhati penuh penasaran. Di
lengkapi para pedagang yang jualan makanan ringan dan mainan anak-anak.
Sebenarnya saya kurang tertarik dengan adanya pasar malam,
siang-siang melewati hanya itu-itu saja yang di pasang. Ya. Memang sederhana.
Anak-anak muridku sudah mengabarkan adanya acara yang
sederhana ini mulai kemarin-kemarin.
Tetangga kanan-kiri pun sudah heboh mencengkramakan hadirnya
makhluk-makhuk besi tanpa nyawa di lapangan utara SMP.
Zzzzzz... Apa siih mereka. Pikirku. Gitu aja kok di bikin
ramai.
Pasang tampang muka menyenangkan ketika muridku mengajak
lihat di Pasar Malam. Nanti malam di buka lo Buuu.... Bu Farida lihat ya... ku
balas senyuman.
Masuk ke malam hari.
Hapeku bergetar. SMS masuk dari Bu Asti, guru baru nan manis
hatinya. Dia pun mengubah paradigma Pasar Malam desa di hatiku. Ajakan bu Asti
menggelitik hati menjadi penasaran. Ku iyakan ajakannya dan segera ku ambil
kamera digital pink yang tergeletak di atas meja.
Paradigma pasar malam desa di pikiranku berubah menjadi
moment yang jarang-jarang ada di desa.
Aku tertawa, menertawakan diriku. Malu sebenarnya. Mengakui
kalau Pasar Malam itu asyik sekali. Banyak lampu, sapaan riang anak-anak.
Teman-teman karang taruna yang sudah lumayan lama tak berkabar, -dikira tugasku
usai-. Juga bercengkrama dengan orang
tua wali murid yang sengaja datang melihat ramainya malam ini.
Ambil gambar dari dekat, dari jauh, dari dekat lagi, menjauh
lagi. Padahal objeknya ya itu-itu saja. Tapi inilah moment. Jarang-jarang. =D
Ada bianglala berputar, ternyata naik ini bikin spot
jantung. Takut, mungkin karena keamanannya saya tidak tahu, aman apa tidak.
Pengamatanku ini mainan bianglala sepertinya barang lama, rantainya bikin
begidik. Kuncian pintu bianglala yang miripsarang burung ini juga bikin ngeri, bagaimana kalau.. atau bagaimana jika... hadoo..
Aku sudah berkali-kali naik bianglala yang lebih besar dari ini. 4 kali
lipat malah. Tapi biasa, nggak pakai takut. Yang ini kecil tapi bikin deg-deg.
Deg-degnya dialihkan dengan teriak Wooooo setiap putaran bareng sama anak-anak.
Hilang deeh degnya..
Mainan ke dua: kereta-keretaan. Bentuknya seperti naga,
taring besar, lidah menjulur-julur, dan ternyata mesinnya rusak. Harus didorong
tenaga manusia. Lucu. Aku tertawa di riuhnya gegap gemita pasar malam. Ada-ada
aja. Anak-anak matanya yang sudah menyala ingin naik jadi meredup, kecewa
pastinya. Jelas si manusia tenaganya tidak kuat, berat badan 15 anak di tambah
berat badan makhuk besi naga tak bernyawa sudah berapa, belum lagi itungan
jalan rel makhluk yang sepertinya kurang pelumas, bunyinya krek-krek-krek.
Mesin akhirnya bunyi. Wah, muridku yang mau naik mengantri
buat pengecekan karcis. Si penjaga naga memacu naga tanpa penumpang. Sepertinya
yang pertama kurang panas mesinnya. Malu-malu muridku tahu aku memperhatikannya
menumpang badan si naga. Senyuum... aku ambil gambarnya lewat kameraku.
Meja keberuntungan. Aku tak tertarik sama sekali. Isinya
pertaruhan uang. Permainan yang banyak mengandalkan bejo-bejoan. Biarkan orang
sewasa yang main, asal murid saya tidak, sebenarnya datang ke sini juga
memastikan kalau anak-anak tidak mengunjungi meja ini. Syukurlah kalau anak-anak tertarik hanya dengan mainan saja.
Akupun tak membawa apa-apa ketika pulang. Inginya beli
martabak manis, tapi yang jualan tutup. Makanan di sekitar pasar malam juga
habis, sudah jam sembilan. Mataku ngantuk. Tapi ketemu dengan Bu Darti guru di
sekolah timur sana menyenangkan hati. Beliau menceritakan tentang pengalamannya
di Malang krtika ikut program yang kami kerjakan di Dindik TBB. Haa...jadi bangga, Malang di sebut dan di elunya.
Ajakan pulang karena malam aku iyakan. Pasar malam yang
jarang-jarang ada pun jadi pembelajaranku malam ini. Toh yang sebenarnya biasa
saja ketika benar-benar kita selami jadi luar biasa. Paradigma kita jadi berubah. Biang lala, si
naga dan meja keberuntungan ternyata jadi tempat yang berbeda ketika kita
melihat dengan sisi yang berbeda. 3 saja di malam yang ajaib. Sederhana.
Yang jarang-jarang ada. Pasar Malam.
Margajaya.
Jumat, 4 Oktober 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar