Tiba-tiba aku mencintai proses. Meskipun konsep dan
aplikasi proses sudah mendengung di telingaku sejak lama. Tiba-tiba aku
mencintai proses, proses teruju karena meruntut dari awal peristiwa, juga penggalan-penggalan peristiwa yang tersusun
menguntai rapi memproduksi kisah yang indah. Tiba-tiba aku mencintai proses,
padahal proses selalu tidak bersahabat dengan kesuksesan dan hasil yang
diidamkan.
Bagiku, di dua
minggu awal Februari 2014 aku berproses cepat. Tanpa klamufase, tanpa
tanda-tanda atapun segalanya yang menuju ke proses. Di giring aku menuju konsep
ekonomi mikro, konsep tata keluarga di masa depan, konsep pemberdayaan
masyarakat, juga alasan roman mengabdi di sebuah pulau kecil di sudut Sulawesi. Cerita-cerita masa awal tahun 90an di berbagai
sudut kota pun lembut mengalun masuk ke kalbuku, aku sangat hafal intonasinya,
cara menyampaikannya tak pernah membuat jenuh siapapun yang mendengarnya. Suara
seseorang yang memaksa alam imajiku memasuki kronologi kehidupannya.
Di Surabaya dia
lahir, dari keluarga yang sangat displin dalam beribadah dan menjunjung ilmu.
Aku pernah berjumpa dengan keluarga yang membesarkannya. Bertemu orang tuanya dan adik yang
dibanggakannya. Hangat suasana ketika Mem, ibunya, menyuguhkan sarapan pagi
untukku dan Mbak Yanti. Kami semua bercengkrama mengalir saja. Layaknya air
sungai yang mengalir menghabiskan aliran sungainya sampai hulu.
Kehidupan
keluarga ini ternyata tak sehangat obrolan pagi kala sarapan terbentang di depan
kami. Pemilik suara membeberkan masa-masanya, dari kelahirannya kemudian hijrah
menuju Jakarta. Di Jakarta kehidupan yang dilakoni mulai keras, memasuki SD
swasta AlHidayah, SD pinggiran yang murid-muridnya anak pedagang, anak
pemulung, anak-anak yang orang tuanya kesusahan jika di masukkan ke SD Negeri maka SPP di pastikan memberatkan para pedagang
asongan dan pemulung.
Aku jadi
mengingat masa kecilku, orang tuaku menyekolahkanku di SD Negeri yang lumayan
mahal SPP nya. 5000 rupiah di sekolahku
saat itu, padahal, nasi rawon di depan sekolah hanya 500 rupiah sepiring.
SD Al Hidayah mungkin seperti SD Laskar pelangi, namun mirisya ada di
Jakarta, kota nomer wahid di negeri ini.
Sekolah itu terbatas muridnya,
terbatas prasarananya, namun menggembleng seseorang pemilik suara renyah untuk
berprestasi dan masuk ke SMP Negeri di Jakarta. SD itu kabarnya masih sama.
Sama seperti saat di tinggalkannya di tahun 1998.
SMP nya di
warnai dengan belajar kehidupan, belajar pula memasuki dunia remaja dengan mencetak
NEM tinggi dan masuk ke SMA Favorit di Jakarta. Ketika ku tanya kesan dari sekolah
pinggir masuk ke sekolah negeri yang luar biasa, dengan teman yang banyak dan
bertemu beragam karakter yang jauh berbeda dengan masa kecilnya, jawabnya jujur
mendasar, rasa rendah diri menghantuinya saat-saat itu. Aku pun bercermin,
pernah aku sangat rendah diri di hadapan teman-teman yang pernah bertemu dan
bersama-sama hidup setahun di perantauan. Namun mengapa rasa itu terawat
sempurna, aku malu mengakui di depannya.
Semakin malu
mengakui, dan menyesal mengapa dahulu terawat sempurna sifatku, ketika suara
itu menari mengelayut diksi merangkai
kisah dimana seleksi masuk perguruan tinggi negeri
mengundangnya tanpa tes masuk sekaligus di dua perguruan tinggi ternama.
UGM menjadi
pilihannya. Ternyata mimpi yang sudah terkait sejak TK membawanya di kampus
orang-orang pintar. Orang-orang pintar, kata Memnya begitu. Dan itu membawa si empu suara hijrah
ke Jogya. Jogya yang tak pernah di jamahnya dan di tinggalinya selama 5 tahun
lebih. Awal datang perjuangan keras untuk berusaha bersahabat dengan kota yang
terkenal kearifan lokal penduduk dan budaya suku Jawa. Menelan ilmu-ilmu akademis
dan menetaskan pengalaman-pengalaman hidup yang luar biasa.
Aku tak pernah
tinggal di Jogya. Sebagai pelesir aku memang pernah ke sana. Terakhir ke
Borobudur di kelas lima SD bersama rombongan sekolahku. Aku jadi ingin ke
Jogya. Menyaksikan dan menelaah di sana
dengan sudut pandang yang berbeda, diusiaku yang sudah dua kali lipat lebih
saat terakhir ke sana.
Aku bertemu si
pemilik suara di Surabaya. Saat ada tes kerja menjadi pengabdi di ujung-ujung
Indonesia. Ku berikan name tag tulis di depannya saat pemilik suara itu baru
memasuki kelas. Kami sempat mengobrol tentang latar belakang kami. Suara-suara
itu pun mulai terngiang saat kami sama-sama lolos menjadi pengabdi. Dering
handponeku muncul namanya. Bercengkrama nan manis dimulai sebelum memasuki
dunia pelatihan. Saling mengabari dan bercerita tentang persiapan-persiapan
menuju ke sana. Aku pernah tertinggal saat perjalanan menuju Jakarta. Lemas
saat aku tak bisa mendengar suaranya melalui handphoneku. Sudah dimatikan
handphonenya, artinya pesawat membawanya melintasi langit pulau Jawa. Aku merasakan
kalau dia sangat waswas dengan keadaanku setelah satu setengah jam suaranya
kembali menghiasi gelombang udara dan sampai di telingaku. Dia menanyakan
kabarku. Aku berusaha menenangkan dan akan menyusul ke sana. Aku menangkap
pandangan leganya ketika aku dan dia berhadapan di depannya di tempat yang sama
di Galuh II. Kemudian dia pergi. Melangkah menjauh dan bergabung dengan
teman-temannya.
Saat itu aku
menatapnya dari jauh. Dia berjalan dengan teman-teman barunya dengan memakai
jaket batik yang sampai saat ini sering dikenakan.
Selama pelatihan
aku tak pernah mendengar lagi suara itu, mendengar secara pribadi. Aku teringat
kebaikannya dan ketulusannya sebelum masuk camp, aku menganggap dia sebagai
‘mas’. Aku sering manja meminta diusap kepalaku. Tanpa ada perasaan chemistry
apapun. Tulus sebagai saudara sedaerah. Saat di awal penempatan aku sering
mendengar suaranya berkisah pulau kecilnya Tembang.
Aku membanggakan
dia, tanpa cela dan masih tetap sebagai saudara. Kami dekat tanpa rencana
ketika pulang dari tanah pengabdian kami. Berjalan bersama mengupas kehidupan
Suku Badui, pulang dengan kereta api Argo Lawu bersama mbak Yanti tanpa
perjanjian sebelumnya. Dan di saat dua minggu
terakhir di bulan Januari, suara-suara itu sering menghiasi hari-hariku di kota Surabaya yang
indah. Mengejutkanku ketika suara itu mengaku memendam rasa saat pertama
bertemu dan perjuangannya membuka hatiku.
Suara itu
mengenalkan proses dengan detail padaku. Suara itu menyejukkan hatiku takkala
Ayahku ditemuinya dirumahku. Kedatangannya mendamaikan hatiku serta
mendatangkan perasaan yang berbeda. Insyaallah, nantinya suara itu menemani
perjalanan hidupku. Membimbingku dan membangun keluarga yang benar-benar
bahagia.
Aku ingat, pakar
pendidikan pak Munif Chatib, menerangkan tentang macam-macam gelombang otak.
Saat beliau menerangkan suara, ternyata suara tak akan pernah berubah. Suara
tak akan pernah hilang, mengikuti gelombang dan tersambung ke otak. Dan otakku akan selalu mendengarkan pemilik
suara itu bercerita perjuangan-perjuangannya nanti. Suara itu akan selalu
membuatku terpukau. Suara itu akan mengantarkanku dalam mengalami fase
kehidupan yang baru. Suara renyah itu dimiliki seseorang yang kehidupannya berproses dengan baik, dari
anak SD pinggiran disalah satu sudut pinggiran Jakarta, sekarang mampu menjadi
punggung keluarganya, dan sangat dibanggakan Mega, adik kandungnya. Dia calon
suamiku, aku mempercayakan hidupku padanya, Fitra Luqman
Hidayat.