Minggu, 05 Januari 2014

Kilas Balik Perjalanan Setahun dari Malang ke Pedalaman Lampung



Aku meninggalkannya untuk waktu yang lama tak berbatas, kabupaten Tuba Barat yang  mengenalkan bagaimana aku belajar untuk bersikap dan mendewasakanku ini harus segera di ikhlaskan. Air mata jatuh berurai saat mobil Avanza meniti jalanan hitam berlubang sana-sini.
 
 Setahun yang lalu, saat pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Udara Radin Inten,  tak pernah terlintas akan menginjakkan kaki di tanah Lampung. Mungkin dulu saat sebelum di putuskan di tempatkan di sini aku tak pernah menduga sebelumnya. Tuntunan mozaik-mozaik dari cerita Lampung sangat terasa sekali terngiang-ngiang dari telinga menuju hati. Temanku di asal muasalku, -Kota Malang- selalu menceritakan Lampung, ketika masa pelatihan juga di singgung tentang keadaan tantangan geografis dan sosiologis yang seimbang, sebelumnya juga tersentil nama Tulang Bawang, jauh sebelum aku masuk di bangku kuliah. Ya, memang Tulang Bawang Barat. Tempat yang di persiapkan semesta dan Tuhan untuk aku mengabdi dan berbakti.

Sekali lagi, aku  juga tak menyangka, Lampung akan menjadi saksi perjalanan masa mudaku. Menghabiskan rentangan waktu di sepanjang usia 23. Patut ku syukuri bertemu banyak saudara dan orang tua baru juga keluarga baru. Tentunya dengan murid-murid penuh Bintang Harapan di desaku.

Jauh di kecamatan Gunung Agung, aku memasuki dunia baruku. Saat itu jalanan di sana masih berbatu dan penuh lumpur saat hujan. Berkali-kali aku terjatuh di dalam kubangan lumpur. Saksi motor TVS merah itulah yang selalu aku tunggangi kemana-mana. Baju dan tas lusuh terkena lumpur sudah biasa. Memar memar di bagian bagian tubuhku sering aku alami. Apalagi saat musim panas tiba, daun-daun, genteng rumah warga, apalagi terasnya, dipenuhi butiran debu yang tebal, daun hijau pun di kuas warna coklat, genteng pun berhias debu. Sumur di rumah yang aku diami juga tak kunjung hadir airnya. Kering. Sumur bor satu-satunya harapan.

Ada jalan yang aku paling tak suka. Di daerah kampung sawah. Di kampung sawang ini menghubungkan antara rumahku dan kedua temanku. Kontur jalannya berbatu, kalau siang hari debunya nyaris membuat sesak di dada. Apalagi jika beradu dengan truk pengangkut singkong. Asap kendaraan raksasa membuat pedih mata juga menerbangkan debu di jalanan. Helm putih SNI lusuhku yang menyelamatkan wajahku. Meski oleh-oleh setahun ini, wajahku semakin manis eksotis. Yang membuat aku semakin tak suka, jalanan ini musti dilewati, tak ada pilihan lain. Biasanya aku melewati kebun-kebun karet, menerabas ladang orang lain untuk menghindari sengatan matahari dan truk-truk penganngkut singkong, apalagi sopirnya. Kadang mereka reseh, membunyikan klaksonnya keras-keras saat aku melintas. Telingaku serasa pecah.

Sekarang pembangunan dan perbaikan daerah di Gunung Agung mulai gencar, jalan dari pusat kegiatan ekonomi warga di Unit dua sampai desaku sudah di aspal. Meskipun kabar yang aku dengar komposisi antara bahan aspal dan jalan batu tak sesuai dengan yang direncanakan. Perbaikan jalur provinsi di ratakan kembali. Menuju desa sahabatku sekarang tak perlu melewati kampung sawah. Tak perlu menghabiskan waktu dijalan selama 45 menit, perbaikan jalan memangkas watu perjalanan menjadi 30 menit saja.
Selain itu,  jalan-jalan yang masih tanah sudah di makadam dengan batu-batu yang dijajar rapi. Mungkin sepuluh tahun lagi Gunung Agung di Tuba Barat sudah maju dan aku mungkin juga tak mengenalinya jika aku ingin bercumbu mengenang masaku di sana.

Sekolahku tempat mengabdi menarik hati. Ada pohon asem yang di tanam di sebelah barat kantor guru, di sana tempat berbagi hati. Berbagi hati sesama guru, sesama siswa, dengan Bik Mis pemilik warung sekolah, dan tentunya media berbagi hatiku dengan murid-murid kesayanganku. Belajar, cerita, bermain, menunggu, dan menghabiskan waktu soreku di rindangnya daun daun mungil pohon Asem.

Banyak ku temui kebiasaan masyarakat yang di luar kemampuanku berfikir. Ternyata di balik semua itu ada pembelajaran yang aku dapat di sana. Bertemu tokoh pendidikan, perintis kemajuan daerah, para pemangku kebijakan dan sampai tingkat paling kecil di keluargaku. Di paksa aku untuk menyerap semuanya dan memfilter hikmah perjalanan hidup dan tantangannya.

Desaku Margajaya, Gunung Agung, Tulang Bawang Barat.Daerah transmigrasi lokal keturunan suku Jawa. Jauh dari keramaian kota. Ketenangan akan di dapatkan disana tanpa kemacetan dan keruwetan sibuknya suasana kota.  Setahun lebih dua bulan aku bertugas.  
Perjalananku yang  diantar mobil Avanza putih meniti jalanan aspal berlubang sana-sini, dalam suasana sedih di hiasi airmata, aku merenungi, bagaimana belajar memaknai hidup ikhlas secara utuh di sini. Tuba Barat.

Lampung, 4 Januari 2014