Rabu, 27 November 2013

LEBARAN DI MANAPUN TETAP ASYIK!


Suasana nan gundah di hati ini cukup terasa sebelum lebaran datang, banyak teman di sana bertanya,

“tidak mudik bu?”

“apa kabar hatimu, mbak?”

“sedih banget orang tua tahu ada anaknya yang nggak kumpul”

“denger Takbir apa nggak nangis, Bu?”

Sepatah, dua patah, aku jelaskan dengan logika dan pura-pura kuat di hadapan para penanya.
Memang ada gundah gulana, namun harus kuat, harus yakin Lebaran di sini aku harus mengalaminya.
Kadang update status dijejaring sosial bisa menyembuhkan butir-butir embun lara, pasti teman-teman dan para sahabat jauh di lintas pulau sana menguatkan hati ini lewat tuts-tuts bar smartphone milik mereka.
Takbir pun berkumandang ketika Menteri Agama, Surya DarmaAli, mengisbatkan 1 Syawal 1434H jatuh pada malam Kamis, Di tanggal 8 Agustus 2013. Ramai, semuanya turun ke jalan, poros desa pun penuh sesak, padahal jalanan batu masih menantang lancip-lancipnya dan tanah sedang licin-licinnya karna guyuran air yang membasahi bumi.

Aku berjalan ke rumah sahabatku, Anni. Dia mengajak berkeliling desa, ketika aku menceritakan sedikit kegalauan karna Ibuku menelepon mengabarkan bahwa beliau ngungsi sementara di rmah Nenek di Probolinggo, sedangkan ayahku tak bisa dihubungi, beliau  tak berkabar apa-apa dari kotak hitam ajaib yang layarnya sering ku sentuh ini.

Bermotor ke rumah Nita dengan menjemput si Sophie. Teman baruku yang kuliah di Tanjung Karangmengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris. Yang Ibunya percaya sama aku, tapi amanah itu tak berlangsung lama, karena si Sophie pulang terlambat 30 menitan dari deadline waktu karena sesuatu yang nanti ini akan ku ceritakan.

Anni, aku, juga si Sophie, dan empunya rumah si Nita, ngobrol simpang siur tentang harapan-harapan di Lebaran ini, sampai akhirnya temanku yang aku kenal lewat karang taruna desa datang dan mengajak pawai keliling ke desa lain. Dia pun membawa teman lagi, dan akhirnya meski hati berperang menentang bahwa tidak  layak untuk dilakukan, tapi akhirnya akupun mengiyakan ajakan teman-teman setelah dipaksa-paksa. =D

Sigit, Guru SMA juga, Agil, guru SMK yang baru di buka dan sedang mbabat alas di desa Margajaya, Wira, anak kampus Unila yang aku kenal baru ini, juga si Dani, eh entah aku lupa namanya, karenabaru ketemu sekali itu, naek motor sama-sama keliling ke unyil lalu ke SP2, entah setan mana, yang tiba-tiba dari Unyil balik ke sp4c malah bablas ke SP2C.

Tapi namanya di bonceng sama AKAMSI (anak kampung sini) -teman-teman PM TBB menyebutnya- ya aman damai sentosa. Mereka berempat yang membonceng kami sudah lihai dan insting mereka kuat, buktinya Pak Sigit yang membonceng aku kakinya tak kena lumpur sama sekali. Meski bibir mereka penuh cercaan ke si teman baruku yang aku lupa namanya karna dia yang ngajak ke SP2C, tapi mereka tetap tangguh meski jalan penuh air menggenang, gelap gulita, menembus ribuan pohon karet yang berbaris rapi, juga merayap setapak motor yang dilewati penderes karet tiap dini hari.  Banyangkan jika aku yang bawa, Si Rissa atau Monic udah tahu rasanya jatuh di lumpur gara-gara aku. =D

Meski Pak Sigit bertempur dengan jalanan merah, juga motor tak mendukung, aku dan pak Sigit menunggangi motor matic Mio punya Anni. Sedangkan pak Agil bawa KLX kawasaki gressnya, Pak sigit dan aku bertukar cerita tentang perjalanan jadi guru. Kami berdua memang guru, tapi ikut-ikutan pawai layaknya remaja belasan memang kurang baek, malu lah kalau ketemu murid-muridnya. Dari sini aku sadar tugas guru memam=ng berat, ya di sekolah, ya di rumah, ya di jalan, harus pandai-pandai jaga sikap. Ingat singkatan ala jawa, guru, digugu lan di tiru.

Akhirnya kami semua sampai di margajaya SP4Cdengan selamat, segera aku antar si Sophie kembali ke rumahnya, aku pun kembali ke rumah juga, aku gelar sajadahku, bemunajad padaNya, bertakbir dalam bisunya malam. Bersyukur karena di perantauan ada teman yang selalu setia menemani, bersyukur karena pagi esok solat ied,bersyukur karena punya keluarga baru yang baik hati,  tetapi hati ini sebenarnya sungguh sedih meratapi ramadhan yang telah pergi, sesungguhnya aku kurang sekali memanfaatkan ramadhan tahun ini. Banyak kegiatan dan kesibukan, juga tiba-tiba harus tidak puasa karena kodrat wanita yang aku terima.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar....

Bisikku dalam hati berkali-kali hingga aku tertidur pulas dengan senyuman.





3 SAJA DI MALAM AJAIB




Malam ini ada yang berbeda di desa ku, pertunjukan pasar malam.
Sederhana, hanya ada sepasang permainan anak anak, dan meja panjang untuk menguji keberuntungan para manusia berhati penuh penasaran. Di lengkapi para pedagang yang jualan makanan ringan dan mainan anak-anak.

Sebenarnya saya kurang tertarik dengan adanya pasar malam, siang-siang melewati hanya itu-itu saja yang di pasang. Ya. Memang sederhana.
Anak-anak muridku sudah mengabarkan adanya acara yang sederhana ini mulai kemarin-kemarin.
Tetangga kanan-kiri pun sudah heboh mencengkramakan hadirnya makhluk-makhuk besi tanpa nyawa di lapangan utara SMP.

Zzzzzz... Apa siih mereka. Pikirku. Gitu aja kok di bikin ramai.
Pasang tampang muka menyenangkan ketika muridku mengajak lihat di Pasar Malam. Nanti malam di buka lo Buuu.... Bu Farida lihat ya... ku balas senyuman.

Masuk ke malam hari.
Hapeku bergetar. SMS masuk dari Bu Asti, guru baru nan manis hatinya. Dia pun mengubah paradigma Pasar Malam desa di hatiku. Ajakan bu Asti menggelitik hati menjadi penasaran. Ku iyakan ajakannya dan segera ku ambil kamera digital pink yang tergeletak di atas meja.

Paradigma pasar malam desa di pikiranku berubah menjadi moment yang jarang-jarang ada di desa.
Aku tertawa, menertawakan diriku. Malu sebenarnya. Mengakui kalau Pasar Malam itu asyik sekali. Banyak lampu, sapaan riang anak-anak. Teman-teman karang taruna yang sudah lumayan lama tak berkabar, -dikira tugasku usai-.  Juga bercengkrama dengan orang tua wali murid yang sengaja datang melihat ramainya malam ini.
Ambil gambar dari dekat, dari jauh, dari dekat lagi, menjauh lagi. Padahal objeknya ya itu-itu saja. Tapi inilah moment. Jarang-jarang. =D

Ada bianglala berputar, ternyata naik ini bikin spot jantung. Takut, mungkin karena keamanannya saya tidak tahu, aman apa tidak. Pengamatanku ini mainan bianglala sepertinya barang lama, rantainya bikin begidik. Kuncian pintu bianglala yang miripsarang burung ini juga bikin ngeri, bagaimana kalau.. atau bagaimana jika... hadoo..  Aku sudah berkali-kali naik bianglala yang lebih besar dari ini. 4 kali lipat malah. Tapi biasa, nggak pakai takut. Yang ini kecil tapi bikin deg-deg. Deg-degnya dialihkan dengan teriak Wooooo setiap putaran bareng sama anak-anak. Hilang deeh degnya..

Mainan ke dua: kereta-keretaan. Bentuknya seperti naga, taring besar, lidah menjulur-julur, dan ternyata mesinnya rusak. Harus didorong tenaga manusia. Lucu. Aku tertawa di riuhnya gegap gemita pasar malam. Ada-ada aja. Anak-anak matanya yang sudah menyala ingin naik jadi meredup, kecewa pastinya. Jelas si manusia tenaganya tidak kuat, berat badan 15 anak di tambah berat badan makhuk besi naga tak bernyawa sudah berapa, belum lagi itungan jalan rel makhluk yang sepertinya kurang pelumas, bunyinya krek-krek-krek.

Mesin akhirnya bunyi. Wah, muridku yang mau naik mengantri buat pengecekan karcis. Si penjaga naga memacu naga tanpa penumpang. Sepertinya yang pertama kurang panas mesinnya. Malu-malu muridku tahu aku memperhatikannya menumpang badan si naga. Senyuum... aku ambil gambarnya lewat kameraku.
Meja keberuntungan. Aku tak tertarik sama sekali. Isinya pertaruhan uang. Permainan yang banyak mengandalkan bejo-bejoan. Biarkan orang sewasa yang main, asal murid saya tidak, sebenarnya datang ke sini juga memastikan kalau anak-anak tidak mengunjungi meja ini. Syukurlah kalau  anak-anak tertarik hanya dengan mainan saja.

Akupun tak membawa apa-apa ketika pulang. Inginya beli martabak manis, tapi yang jualan tutup. Makanan di sekitar pasar malam juga habis, sudah jam sembilan. Mataku ngantuk. Tapi ketemu dengan Bu Darti guru di sekolah timur sana menyenangkan hati. Beliau menceritakan tentang pengalamannya di Malang krtika ikut program yang kami kerjakan di Dindik TBB. Haa...jadi bangga, Malang di sebut dan di elunya.

Ajakan pulang karena malam aku iyakan. Pasar malam yang jarang-jarang ada pun jadi pembelajaranku malam ini. Toh yang sebenarnya biasa saja ketika benar-benar kita selami jadi luar biasa.  Paradigma kita jadi berubah. Biang lala, si naga dan meja keberuntungan ternyata jadi tempat yang berbeda ketika kita melihat dengan sisi yang berbeda. 3 saja di malam yang ajaib. Sederhana.
Yang jarang-jarang ada. Pasar Malam.

Margajaya.
Jumat, 4 Oktober 2013.