Suasana nan gundah di hati ini cukup terasa sebelum lebaran
datang, banyak teman di sana bertanya,
“tidak mudik bu?”
“apa kabar hatimu, mbak?”
“sedih banget orang tua tahu ada anaknya yang nggak kumpul”
“denger Takbir apa nggak
nangis, Bu?”
Sepatah, dua patah, aku jelaskan dengan logika dan pura-pura
kuat di hadapan para penanya.
Memang ada gundah gulana, namun harus kuat, harus yakin
Lebaran di sini aku harus mengalaminya.
Kadang update status dijejaring sosial bisa menyembuhkan
butir-butir embun lara, pasti teman-teman dan para sahabat jauh di lintas pulau
sana menguatkan hati ini lewat tuts-tuts bar smartphone milik mereka.
Takbir pun berkumandang ketika Menteri Agama, Surya
DarmaAli, mengisbatkan 1 Syawal 1434H jatuh pada malam Kamis, Di tanggal 8
Agustus 2013. Ramai, semuanya turun ke jalan, poros desa pun penuh sesak,
padahal jalanan batu masih menantang lancip-lancipnya dan tanah sedang
licin-licinnya karna guyuran air yang membasahi bumi.
Aku berjalan ke rumah sahabatku, Anni. Dia mengajak
berkeliling desa, ketika aku menceritakan sedikit kegalauan karna Ibuku
menelepon mengabarkan bahwa beliau ngungsi sementara di rmah Nenek di
Probolinggo, sedangkan ayahku tak bisa dihubungi, beliau tak berkabar apa-apa dari kotak hitam ajaib
yang layarnya sering ku sentuh ini.
Bermotor ke rumah Nita dengan menjemput si Sophie. Teman
baruku yang kuliah di Tanjung Karangmengambil jurusan pendidikan bahasa
Inggris. Yang Ibunya percaya sama aku, tapi amanah itu tak berlangsung lama,
karena si Sophie pulang terlambat 30 menitan dari deadline waktu karena sesuatu
yang nanti ini akan ku ceritakan.
Anni, aku, juga si Sophie, dan empunya rumah si Nita,
ngobrol simpang siur tentang harapan-harapan di Lebaran ini, sampai akhirnya
temanku yang aku kenal lewat karang taruna desa datang dan mengajak pawai
keliling ke desa lain. Dia pun membawa teman lagi, dan akhirnya meski hati berperang
menentang bahwa tidak layak untuk
dilakukan, tapi akhirnya akupun mengiyakan ajakan teman-teman setelah
dipaksa-paksa. =D
Sigit, Guru SMA juga, Agil, guru SMK yang baru di buka dan
sedang mbabat alas di desa Margajaya, Wira, anak kampus Unila yang aku kenal
baru ini, juga si Dani, eh entah aku lupa namanya, karenabaru ketemu sekali
itu, naek motor sama-sama keliling ke unyil lalu ke SP2, entah setan mana, yang
tiba-tiba dari Unyil balik ke sp4c malah bablas ke SP2C.
Tapi namanya di bonceng sama AKAMSI (anak kampung sini)
-teman-teman PM TBB menyebutnya- ya aman damai sentosa. Mereka berempat yang
membonceng kami sudah lihai dan insting mereka kuat, buktinya Pak Sigit yang
membonceng aku kakinya tak kena lumpur sama sekali. Meski bibir mereka penuh
cercaan ke si teman baruku yang aku lupa namanya karna dia yang ngajak ke SP2C,
tapi mereka tetap tangguh meski jalan penuh air menggenang, gelap gulita,
menembus ribuan pohon karet yang berbaris rapi, juga merayap setapak motor yang
dilewati penderes karet tiap dini hari. Banyangkan jika aku yang bawa, Si Rissa atau
Monic udah tahu rasanya jatuh di lumpur gara-gara aku. =D
Meski Pak Sigit bertempur dengan jalanan merah, juga motor
tak mendukung, aku dan pak Sigit menunggangi motor matic Mio punya Anni.
Sedangkan pak Agil bawa KLX kawasaki gressnya, Pak sigit dan aku bertukar
cerita tentang perjalanan jadi guru. Kami berdua memang guru, tapi ikut-ikutan
pawai layaknya remaja belasan memang kurang baek, malu lah kalau ketemu
murid-muridnya. Dari sini aku sadar tugas guru memam=ng berat, ya di sekolah,
ya di rumah, ya di jalan, harus pandai-pandai jaga sikap. Ingat singkatan ala
jawa, guru, digugu lan di tiru.
Akhirnya kami semua sampai di margajaya SP4Cdengan selamat,
segera aku antar si Sophie kembali ke rumahnya, aku pun kembali ke rumah juga,
aku gelar sajadahku, bemunajad padaNya, bertakbir dalam bisunya malam.
Bersyukur karena di perantauan ada teman yang selalu setia menemani, bersyukur
karena pagi esok solat ied,bersyukur karena punya keluarga baru yang baik
hati, tetapi hati ini sebenarnya sungguh
sedih meratapi ramadhan yang telah pergi, sesungguhnya aku kurang sekali
memanfaatkan ramadhan tahun ini. Banyak kegiatan dan kesibukan, juga tiba-tiba
harus tidak puasa karena kodrat wanita yang aku terima.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar....
Bisikku dalam hati berkali-kali hingga aku tertidur pulas
dengan senyuman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar