Laki-laki. Tahu kan gambaran laki-laki? Tangguh. Kuat.
Berotot. Senyum simpatik dengan gigi putih berbaris rapi. Rambut hitam legam tersisir
rapi, mengkilat jika dilihat dari jauh ketika berpantulan dengan cahaya
matahari. Berbalut busana yang kaku, dengan model kemeja yang berkerah tegak,
dan dihiasi empat saku, masing-masing dua didada dan dua dibagian bawah sejajar
dengan pinggang. Celana bahan kain yang
sudah dicuci dengan dicampuri tepung kanji,
dijemur dengan panas matahari yang dijaga agar warna kainnya tidak pudar.
Disetrika dengan hati-hati hingga benar-benar terlihat garis lurus celananya.
Garis celana nyaris tidak hilang meski di cuci sampai berkali-kali. Busana
Safari. Laki-laki dengan mata yang
menyala penuh semangat hidup berjalan santai tapi dengan ketegasan menuju
gerbang sekolah.
Dialah Pak Yanto. Gambaran Pak Yanto 15 tahun atau bahkan 20
tahun yang lalu. Terlihat samar di usianya sekarang yang menginjak kepala 6. Kulitnya
mulai berubah, tak lagi lembab seperti masa mudanya. Mulai kering, keriput, dan
menipis. Garis-garis senyum di wajahnya mampu menutupi kegagahannya. Rambut yang
berubah menjadi putih pada kulit kepala, klimis hanya menghiasi sebagian kepala
saja. Kekurangan tersebut memberikan ekspektasi bahwa beliau lemah teramat
lemah, tapi begitu membuka telinga lebar-lebar kata-kata diplomatis yang
terucap, runtut, padat dan terarah. Satu-satu kalimat pembuka sambutan dari
sekolah untuk kedatangan kami berlima di SD Swasta Tantina di lingkungan bawah
barak. Kenapa bawah? Karena menuju ke SD harus berjalan menurun melewati
anak-anak tangga kemudian melewati jalanan aspal dan masuk keperkampungan. Menemui tambak kecil buatan, pohon-pohon
mangga, kolam dengan puluhan ikan mas bertotol warna-warni ikan mas, hitam,
putih, orange, merah. Subhanallah. Indahnya meski perjalanan tidak sampai
menghabiskan 5 kali putaran jarum paling panjang jam dinding di sekolah. Kami duduk
mendengarkan dengan seksama, sesekali kami menimpali dan mendengar kembali.
“Kami berikan kebebasan seluas-luasnya kepada kalian semua,
jangan tanggung-tanggung, jangan malu-malu. Silahkan!” Pesan Pak Yanto diawal
pertemuan kami dihari Jum’at itu.
dalam hati aku menjawab “iya pak. Terimakasih atas penerimaannya.
dalam hati aku menjawab “iya pak. Terimakasih atas penerimaannya.
Ketika hari senin tiba, upacara di mulai, hormatku pada
bendera merah putih di halaman sekolah mengobarkan semangatku untuk dunia
pendidikan, teringat lagi aku pada sosok Pak Yanto. Ternyata beliau adalah guru
olahraga. Saya baru tahu ketika beliau membriving kami bersama-sama untuk
merancang kegiatan ‘jeda’ sehabis UTS. Kami berlima berpanas-panas ria, bermain
bersama anak-anak. Lepas semua penat di barak, melebur dengan cerianya
anak-anak kelas 3, ada yang menangis, duduk melihat saja, dan banyak juga yang
bergelandotan minta main lagi. Dan lagi-lagi Bapak Yanto mengamati kami.
Bapak Yanto di hari-hari berikutnya aku lupakan. Aku fokus
dengan kegiatan PPMku di kelas. Belajar Mengajar. Belajar memahami anak.
Belajar tentang manusia. Belajar tentang kontrol emosi, belajar tentang dunia
mereka, belajar tentang asesor, belajar tentang perbedaan, belajar sabar ketika
pulang harus menanjak jalanan semen dan aspal yang panas. Belajar lebih
berkeringat. Belajar menerima.
Belajar yang kompleks tersebut di balas dengan rekreasi
mengantarkan anak-anak berenang! Waah... hati ini senang, rasanya seperti ditembak pujaan hati yang
diidam-idamkan.
Pagi hari sudah bersiap sedia untuk menuju ke sekolah. Berseragam training IM abu-abu,
kami berjalan menyusuri jalan yang sama. Melewati jalanan menurun dengan
langkah yang lebih cepat. Kami bersemangat. Membayangkan birunya kolam renang
dan teriakan-teriakan lucu dari mulut mungil anak-anak.
Setibanya di sana kami mengatur ramainya suara dan riuhnya
sikap anak-anak. Kewalahan. Ya, kewalahan mengatasi banyaknya anak yang ramai,
lari ke sana-ke mari. Ketika berusaha mengumpulkan mereka artinya berjibaku
menjaring ikan pada jala-jala. Tetapi Pak Yanto berbeda. Beliau mengumpulkan
mereka hanya dengan tiupan peluit melengkingnya. Larilah mereka menuju bapak
kebanggaan mereka. Yah, itulah beda kami dengan bapak Yanto. Beliau asyik
dengan anak-anak dan bersama-sama mengajak mereka pemanasan sebelum masuk ke
kolam renang.
Pengajaran di dalam kolam pun menyenangkan, yang paling
benar-benar sangat membuat mata dan hati ini terpana ketika Pak Yanto
memdemokan kemastreoannya dalam bersahabat dengan air. Ketangguhannya tetap
ada. Rasa sayangnya sama anak-anak didiknya sebagai guru benar-benar tulus. Dari masa ke masa kelaki-lakiannya tetap
melekat kuat dibalut rasa cinta terhadap anak-anak didiknya bersama ketangguhan
hatinya tersendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar